Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

Forum PERCAKAPAN XXIV “Bangga dan Bertindak sebagai Indonesia yang Besar”

Ada suasana agitatif dalam “Forum Percakapan” edisi 17 April 2012. Namun, ini bukan mendorong aksi anarki, melainkan mampu mempompa semangat optimisme dan kepercayaan diri peserta sebagai bangsa Indonesia yang besar. Mengangkat tema: “Bangga dan Bertindak sebagai Indonesia yang Besar,” Forum menghadirkan Bapak Bayu Krisnamurthi – Wakil Menteri Perdagangan yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Pertanian dari periode 2009 – 2011. Dalam dialog yang dipandu Konsultan Senior DDI Aditya Sudarto, ia begitu bersemangat ketika menceritakan pengalaman mempromosikan produk dan jasa di dalam kancah perdagangan global.

Tanpa didasari, penuturan Doktor Program Studi Ekonomi Pertanian IPB itu, menyentak rasa kebangsaan kita sebagai sebuah bangsa yang besar yang perlahan-lahan semakin luntur di tengah masyarakat. Itu bisa dipahami ketika berita tentang Indonesia yang muncul di media – khususnya dari media internasional, justru kabar-kabar yang citra bangsa ini makin terpuruk. Bencana, praktik korupsi yang makin akut di masyarakat, atau pelecehan tenaga kerja Indonesia utamanya tenaga kerja wanita di luar negeri adalah sebagain materi promosi buruk yang kerap diangkat media. Pasar bebas, di sisi lain, mendorong membanjirnya investasi dan impor produk-produk asing ke dalam negeri. Asing menguasai kepemilikan perusahaan-perusahaan strategis, mulai dari perbankan, pertambangan, sampai jaringan retail produk konsumsi. Kondisi ini memunculkan kesan betapa lemah dan rentannya bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan ekonomiu global.

Sudut pandang berbeda disuarakan Bapak Bayu. Sebagai birokrat yang bertanggungjawab untuk menggenjot produk dan jasa Indonesia di tingkat internasional, ia mlah melihat Indonesia semakin disegani dan diperhitungkan dalam kancah global. Pak Bayu tidak minder dan justru bangga menjadi bagian bagian bangsa Indonesia. Ia lalu menguraikan pengalaman memimpin negosiasi perdagangan dengan para pejabat dan pelaku bisnis Afrika Selatan pada dalam 9-14 April 2012, dalam acara: Indonesia Night yang diselenggarakan di Cape Town, Afrika Selatan (Afsel). Peran Negeri Nelson Mandela tersebut sangat stratagis diantara negara-negara lain di ujung selatan Benua Afrika. Perekonomian dan standar kehidupan masyarakat Afsel pun relatif tidak berbeda jauh dibandingkan negara maju. Namun, pejabat-pejabat Afsel tersebut mengakui kebesaran Indonesia sebagai pemimpin ASEAN dan Dunia Islam.

Mungkin ini sekadar sopan santun diplomatis dalam sebuah negosiasi bisnis antar bangsa. Yang pasti, hasil akhir negosiasi yang dijalankan, Pak Bayu mampu menghasilkan sejumlah kesepakatan yang menguntungkan neraca perdagangan Indonesia. Pemerintah Afsel bersedia menurunkan tarif ekspor sejumlah produk dan komoditi Indonesia setelah pemerintah Indonesia mendorong Pertamina membuka cabang dan gudang pengemasan di Afsel. Secara keseluruhan, transaksi perdagangan antara kedua negara berada pada posisi surplus untuk Indonesia. Pemerintah Afsel memang menawarkan kemudahan bagi negara-negara yang bersedia menanamkan investasi di negeri ini menyusul tetap tingginya tingkat pengangguran di sana. “ Indonesia tidak akan mendapat keistimewaan penurunan tarif jika tidak smart dan percaya diri dalam melaksanakan negosiasi,” katanya.
Masih dalam rangka untuk mengangkat citra Indonesia di tingkat global, pada kesempatan “Forum Percakapan” kali ini juga menghadirkan tim pendaki gunung perempuan Indonesia yang akan menjelajahi Kutup Selatan pada 14-30 Desember 2012 mendatang. Mereka adalah Ami KMD Saragih (48 tahun, psikolog, ibu 2 anak), Amalia Yunita (44 tahun, wiraswasta, ibu 3 anak), Veronica Moeliono (48 tahun, pegawai swasta, ibu 1 anak), Diah Bisono (46 tahun, wiraswasta, ibu 3 anak), dan Miranda Wiemar (43 tahun, akuntan, ibu 1 anak).

Tujuan akhir ekspedisi para ibu yang tergabung dalam Yayasan Lupus Indonesia adalah berhasil menancapkan bendera dwiwarna: merah-putih di ke jantung benua Antartika. Tidak hanya itu, mereka sekaligus membawa pesan mulia: mengkampanyekan kesadaran masyarakat akan bahaya Lupus. Penyakit yang sebagian besar menyerang kaum perempuan tersebut, sampai saat ini belum ditemukan cara pengobatannya. Perhatian khusus dari Pemerintah pun masih belum optimal sehingga korban terus meningkat karena kurangnya informasi. Daya Dimensi Indonesia turut mendukung misi mulia tim pendaki perempuan Indonesia untuk menjelajahi kawasan kutup selatan. Jika tersentuh dan tergerak untuk mensukseskan misi mulia ini, Anda dapat menghubungi DDI untuk berkontribusi lebih jauh. Tentu dengan tujuan akhir bangsa Indonesia semakin besar dan diperhitungkan diantara bangsa-bangsa di dunia ini. (Teguh A).

Forum PERCAKAPAN XXIII – Manajemen Energi

Ambisi mengenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia tanpa adanya kebijakan pengelolan energi yang tepat adalah kemustahilan. Peningkatan ketahanan energi penting untuk mensukseskan pembangunan nasional. Masyarakat harus memiliki akses energi, dalam arti dapat memperoleh energi di setiap saat dalam berbagai bentuk, cukup kuantitasnya, harga terjangkau, dan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

Mengingat betapa strategisnya peran migas, tidak heran bila diskusi soal migas, khususnya BBM (Bahan Bakar Minyak) tentu akan menyita perhatian berbagai kalangan. Kondisi itu pula yang terjadi pada “Forum Percakapan” yang digelar di Lounge Daya Dimensi Indonesia di Kompleks Mega Kuningan Jakarta pada 21 Februari 2011. Dua pembicara tamu hadir pada kesempatan ini, yaitu Bapak Prof. Widjajono Partowidagdo – Wakil Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral dan Presiden Direktur PT Energy Management Indonesia (EMI) Persero. EMI, Bapak Gannet Potjowinoto. Diskusi pun berlangsung panas. Atmosfir diskusi berlangsung hangat, bahkan untuk beberapa bagian berlangsung panas. Maklum, “Forum Percakapan” kali ini momentnya berdekatan dengan kebijakan pemerintah yang berencana menaikan harga BBM.

Prof. Widjajono Partowidagdo menyatakan masalah energi di Indonesia lebih disebabkan belum berkembangnya energi terbarukan, karena kurangnya investasi pemerintah terhadap sektor migas akibat terkurasnya anggaran negara untuk biaya subsidi energi. Biaya subsidi semakin membangkak ketika harga minyak mentah terus merangkak naik di atas 100 dolar per barel. Padahal, Indonesia saat ini sudah tercatat sebagai pengimpor minyak, Inilah yang melatarbelakangi rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM .” Brazil itu berhasil karena BBM-nya tidak disubsidi, sehingga ada uang untuk investasi. Disparitas harga minyak tidak terlalu tinggi sehingga ada untuk inovasi. Jadi orang Brazil ini pinter,” ujarnya.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang bangga disebut pendidik sejak 1976 hingga sekarang menjelaskan perlunya otak dan hati untuk memajukan energi terbarukan itu. “Terbarukan itu perlu otak tetapi juga yang diperlukan hati. Kalau tidak punya otak maka tidak punya akal, tapi kalau tidak punya hati maka tidak punya moral,” jelas anggota Dewan Energi Nasional sejak 2004.
Prof. Widjajono saat ini menjadi penasehat sejumlah organisasi ini, antara lain: Asosiasi Perusahaan Migas (Aspermigas) dan Kaukus Migas Nasional, Ikatan Ahli Perminyakan (IATMI), dan Alumni Teknik Perminyakan ITB. Menurutnya, ada beberapa masalah ketahanan energi saat ini yang perlu menjadi perhatian, yakni: (1) Peran BBM masih mendominasi bauran energi primer nasional namun cadangan makin terbatas, (2) Kebutuhan energi terus meningkat secara signifikan, (3) Harga minyak bumi yang saat ini telah melewati US$ 100/barel sedangkan asumsi harga minyak APBN 2011 sebesar US$ 80/barel, (4) Pemanfaatan energi di masyarakat cenderung boros, (5) Adanya potensi gangguan pasokan energi dalam negeri akibat adanya kontrak ekspor jangka panjang, dan (6) subsidi energi fosil telah membebani APBN.

Presiden Direktur PT Energy Management Indonesia EMI Indonesia (Persero), Bapak Gannet Potjowinoto selaku pembicara kedua menegaskan pentingnya efisiensi energi di masyarakat, khususnya di perusahaan dan pabrik. Anjuran Bapak Gannet tentu ada dasarnya karena ia telah berkecimpung dalam perusahaan yang bergerak dalam bidang konservasi energi. Sebelum menjadi Presdir PT EMI, sejak 1999 sampai 2004, Pak Gannet telah menduduki posisi Direktur Operasi.

Sejak 2004 sampai sekarang menjadi Presiden Direktur PT Energy Management Indonesia EMI Indonesia (Persero). Setelah bekerja di perusahaan IPTN Bandung (1984), Gannet membangun karier di IBM Indonesia sampai 1991 pada posisi Product Manager dan dipromosikan menjadi Regional Products Manager di Singapura (1991). Sebelum menjabat sebagai Presdir PT EMI, karier lulusan IPMI Jakarta (1993) dan Northrop University Los Angeles (1984) ini terus berkembang di PT Surveyor Indonesia, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Operasi dari 1999-2004.

PT. EMI (Persero) dahulu dikenal sebagai PT. Koneba (Persero). Badan Usaha Milik Negara yang didirikan pada tahun 1987, bergerak dalam bidang konservasi dan manajemen energi. Dari tahun ke tahun kami PT EMI telah bnyak membantu pihak pemerintah, BUMN dan swasta dalam kegiatan konservasi energi, manajemen energi dan diversifikasi energi. Pelaksanaan kegiatan usaha tersebut, papak Pak Gannet. dilakukan oleh tenaga-tenaga terlatih yang profesional dibidangnya serta didukung peralatan-peralatan yang memadai sesuai kebutuhan. “Akumulasi pengalaman kami diberbagai sektor di masyarakat dan di industri banyak memberikan nilai tambah dalam implementasi usaha kami melaksanakan tugas-tugas konservasi, manajemen dan diversifikasi energi,” ujarnya. (Teguh A) ***

Forum PERCAKAPAN XXII “Teladan Pangeran Diponegoro untuk Masyarakat Kini”

Ada banyak dimensi di sekitar Perang Diponegoro (1825 – 1830). Peristiwa besar itu tidak hanya menawarkan kisah heroik perlawanan bangsa ini atas pendudukan pemerintahan Kolonial Belanda di tanah Jawa. Lebih dari itu, Perang Diponegoro juga memaparkan nilai-nilai kemanusiaan, kesadaran atas nilai kebangsaan, keislaman, sampai percintaan. Tidak heran jika koreografer besar Sardono W. Kusumo menyamakan kisah Perang Diponegoro layaknya epik klasik Ramayana atau Mahabarata.
Kebesaran kisah Diponegoro tidak hanya menyita perhatian para sejarawan, antara lain Prof. Peter Carey; Chairil Anwar – penyair besar itu pun kagum akan sosok Pangeran ini. Sampai sekarang, sajak dengan judul “Diponegoro” terpatri di salah satu sudut Taman Ismail Marzuki. Pertimbangan itu pula lah yang rasanya melandasi Rozan Anwar – Komisaris sekaligus Founder Daya Dimensi Indonesia (DDI) memanggungkan ulang Opera Diponegoro di Teater Jakarta pada 11, 12,13 November 2011.
Karya Sardono yang pertama kali dipentaskan pada Indonesia Art Summit (1995) tersebut, kembali diaktualisasikan dengan tema “Opera Java War”. Pertunjukan ini didukung oleh sekitar 70 seniman tari, teater, musik dari Yogyakarta dan Surakarta. Even kali ini terasa istimewa karena menghadirkan Iwan Fals yang menulis 10 lagu baru berdasarkan syair yang ditulis Pangeran Diponegoro. Nyanyian merdu Iwan menjadi penghantar perpindahan antar babak dalam pertunjukan. Otobiografi Pangeran Diponegoro sepanjang 800 halaman itu, ditulis selama sembilan bulan, mulai 13 November 1813. Naskah ini didektekan kepada kerabat, dan bahkan sebagian ditulisnya sendiri, di daerah pembuanganya di Manado, menjelang umurnya yang kelima puluh.
Sementara itu, reproduksi lukisan raksasa yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro di rumah Karesidenan Magelang, pada suatu pagi 28 Maret 1830, menjadi background panggung. Karya Raden Saleh benar-benar bertindak sebagai rujukan ikonografis yang sangat penting dimana ide-ide visual pertunjukan ini mendapatkan bentuknya.
Puluhan pengunjung “Forum Percakapan” yang memenuhi Lounge Kantor Taman pada 6 Desember 2011, kembali mendapatkan pelajaran berarti tentang Perang Diponegoro. Selain Mas Don, ‘Forum Percakapan’ juga menghadirkan Prof. Carey yang juga menulis “An Account of the Outbreak of the Java War”. Sejarawan Inggris tersebut menguraikan, Perang Diponegoro membuka dimensi baru perlawanan bangsa Indonesia ke pemerintahan kolonial Belanda.
Totalitas alumnus Cornell University itu memang patut diapresiasi. Carey telah mendedikasikan hidupnya sejak Desember 1971 untuk mendalami kajian tentang Pangeran Diponegoro. Sebelumnya, ia mengaku tidak tahu tentang sosok Diponegoro. Di akhir 1971, ia mendapat kesempatan berkunjung ke Yogjakarta. Seperti layaknya bule asing, ia pun mengunjungi berbagai atraksi kebudayaan setempat, antara lain melihat pagelaran wayang kulit di Desa Tegalrejo – tempat kelahiran Diponegoro. Entah bagaimana, sejak itu ia seolah mendapat hubungan aneh untuk mengetahui sosok Diponegoro hingga sekarang.
Cakupannya yang luas, melibatkan seluruh level masyarakat, ditambah adanya inspirasi keislaman, membuat Perang Diponegoro betul-betul membuat posisi Belanda terancam di Jawa. Luasnya dukungan rakyat, jumlah korban, biaya yang dikeluarkan serta kharisma kepemimpinanya, menjadikan perang ini sebagai simbol perlawanan paling popular. Perang Diponegoro, betapapun telah merubah secara mendalam pola dan struktur kolonial Belanda, serta mengantarkan watak perjuangan rakyat pada dimensinya yang baru.
Kini, ketika peristiwa itu telah berlangsung hampir 200 tahun lebih, idealisme yang melatarbelakangi perjuangan Pangeran Diponegoro masih tetap memiliki makna. Perang Diponegoro adalah simbol perlawanan atas kesewenangwenangan penguasa atau elite setempat yang didukung Pemerintahan kolonial Belanda. Perang ini juga menunjukkan adanya identitas bangsa dan aktualisasi nilai-nilai Islam Jawa. Isu-isu besar itu pun rasanya masih tetap relevan untuk diperjuangkan saat ini. Masalah ketidakadilan serta mulai kaburnya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman, adalah persoalan nyata di masyarakat yang harus terus diperjuangkan.*** (Teguh A).

FORUM PERCAKAPAN XX – Daya Tarik Indonesia untuk Investasi

Kepercayaan. Kepercayaan. Kepercayaan.
Kata di atas rupanya menjadi kunci utama kesuksesan Patrick Walujo – CoFounder dan CoManaging Director Northstar Equity Partners (NEP). Di usia yang ke-34 tahun, alumnus Cornell University ini telah mengelola dana investor asing yang menanamkan bisnisnya di Indonesia, melalui tiga kali proses fund rising (2006,2008, dan 2011). Jika di awal fun rising baru mampu menggaet dana asing 10 juta dla AS, maka total nilai investasi asing yang dikelola NEP sampai 2011 melonjak mencapai sekitar satu milyar dolar AS.
Pak Patrick mengungkapkan sejumlah kiat berharga bagaimana ia membesarkan perusahan investasi yang dikelolanya melalui ‘Forum Percakapan’ di Lounge Leadership Kantor DDI di Kawasan Mega Kuningan Jakarta,15 September 2011. Masih dalam suasana perayaan Idul Fitri 1432 Hijriah, dipandu Ibu Aprilia Safarini – Group Head Acquisition DDI, dialog yang dihadiri para profesional mitra DDI tersebut belangsung hangat dan bermanfaat.
Kepercayaan yang diperoleh Pak Patrick dari para investor luar negeri bukan datang tiba-tiba. Maklum, sebelum mendirikan NPG, Pak Patrick telah bekerja di sejumlah perusahaan investasi asing terkemuka, yaitu sebagai Associate Investment Banking Division di Goldman, Sach & Co di London dan New York serta Senior Vice President Pasific Century Group di Tokyo. Kepercayaan tersebut, ulas Pak Patrick, harus dibuktikan di lapangan melalui praktik good corporate governance (antara lain keterbukaan) dan good management yang ujung-ujungnya mampu menghasilkan keuntungan signifikan buat investor.
Untuk suksesnya investasi, Patrick melihat manajemen merupakan faktor yang cukup menentukan. untuk itu, ia harus bermitra dan mendapatkan manajer-manajer terbaik. Insentif para manajer tersebut sejajar dengan Northstar, sehingga mereka benar-benar berpikir dan berperilaku sebagai pemilik. Pak Patrick juga lebih senang jika dapat bermitra dengan manajemen lokal Indonesia. “Kami sendiri orang Indonesia. Kami tidak perlu lagi mengajarkan budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia kepada manajer Indonesia,” tambahnya.
Orang kerap salah menafsirkan NEP sebagai perusahaan asing, khususnya dikait-kaitkan dengan Texas Pacific Group (TPG), salah satu private equity fund terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$ 40 miliar. Persepsi publik ini bisa dipahami karena pada akhir November 2006, eksekutif NEP bersama eksekutif TPG sempat diterima Presiden RI di Istana Negara. Tentang hal ini, Pak Patrick menegaskan jika NEP bukanlah agen ataupun mediator TPG. NEP adalah private equity fund yang didedikasikan untuk investasi di Indonesia. “Investor NEP berasal dari lembaga keuangan internasional seperti dana pensiun, dana abadi lembaga pendidikan (university endowment fund), perbankan, dan sebagainya,” katanya.
Dalam berbisnis, manajer investasi NEP dikontrol Northstar Pacific sebagai pemegang saham mayoritas. Adapun TPG menjadi salah satu pemegang saham minoritas. Tidak heran jika hubungan NEP dengan TPG sangat dekat. TPG adalah lembaga pertama yang akan diundang NPG ketika menawarkan kegiatan investasi di Indonesia.
Di usia yang baru sekitar satu dekade, diam-diam kiprah NEP telah menjadi private equity fund terkemuka di Indonesia, misalnya berperan dalam pengambilalihan BTPN, PT Adaro, dan PT Alfa Retailindo Tbk. Soal pilihan investasi, Patrick menyebutkan, pihaknya memilih sektor-sektor di mana Indonesia memiliki keunggulan dibanding negara tetangga, terutama fokus di bisnis yang berbasis sumber daya alam dan bidang-bidang yang dimotori putra Indonesia.
Perjalanan NEP tidak hanya menorehkan keuntungan dan kisah sukses. Pak Patrick pun mengakui pernah mengalami kegagalan dan salah perhitungan dalam berbisnis, antara lain ketika memutuskan untuk masuk dalam bisnis mining batubara yang sempat booming. Namun, kepercayaan investor akan pulih, ketika ia mampu mengungkapkan fakta kebenaran ini kepada investor sekaligus memberikan rekomendasi pembenahan yang akan dilaksanakan.
Dalam pengamatan Patrick, ketertarikan TPG dan investor NEP lainnya menanamkan modal di Indonesia adalah karena Indonesia dinilai sebagai negara ketiga terbesar di Asia yang pertumbuhan ekonominya cukup baik, setelah China dan India. “Jumlah penduduknya besar dan sumber daya alamnya berlimpah. Apalagi kondisi politik dan proses demokratisasinya berjalan cukup baik,” tambahnya.
Tentang penilaian tingginya biaya transaksional di Indonesia kentalnya praktik KKN, Pak Patrick mempunyai pandangan lain. Setiap investor pasti memiliki penilaian masing-masing berkaitan dengan risk dan reward ketika akan memutuskan berbisnis di negara asing. Masalah transaksional juga dialami di negara – negara Asia Pasifik lainnya baik di India, China, Thailand dan Filipina. “Semua sama. Hanya Hong Khong dan Singapura yang lebih baik. Indonesia is journey. Ada perkembangan sosial politik yang membuat kita tetap optimis terhadap Indonesia,” tutupnya. (Teguh Apriliyanto)

FORUM PERCAKAPAN XIX – Politik Budaya Seni Pertunjukan Indonesia

Setelah absen tiga bulan, ‘Forum Percakapan’ – perbincangan informal antar profesional, kembali digelar di Lounge Leadership, Kantor DDI Mega Kuningan 28 Juli 2011. Dipandu founder dan Komisaris DDI, Dr. Rozan Anwar, Forum menghadirkan Julianti Lakshmi Parani, Ph.D.; mengangkat tema: “Seni Pertunjukan Indonesia: Suatu Politik Budaya.”

Ibu Julian adalah sosok budayawan lengkap. Ia balerina dan koreografer terkenal seangkatan Farida Faisol. Juga tercatat sebagai pelaku aktif di balik berdirinya Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Selain sebagai pendidik atau dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ia juga aktif meneliti sejarah Indonesia di Arsip Nasional (1980 -1995). Sebagai pembina kesenian Betawi, kontribusinya cukup bermakna dalam mengembangkan kebudayaan Betawi. Atas dedikasinya tersebut, Pemda DKI Jakarta memberikan penghargaan pada 25 September 2010.

Usia yang telah memasuki dekade ketujuh tidak menghentikan Ibu Julian berkarya. Peraih gelar doktor dari South East Asia Study Program, National University Singapore tersebut, tetap tercatat sebagai peneliti independen sekaligus pengajar di IKJ dan Program Pascasarnaja Urban Art IKJ dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Para profesional – yang sebagian besar berasal dari kalangan bisnis, yang hadir dalam “Percakapan” rasanya terbuka akan pentingnya sebuah bentuk kesenian. Membandingkan kondisi negeri mini Singapura dengan Indonesia, rasanya menyadarkan mereka bahwa perhatian pemerintah masih belum cukup serius memperhatikan kebudayaan. Kepemerintahan negeri ini rasanya belum memiliki politik kebudayaan yang jelas. Bandingkan dengan Singapura yang berambisi menjadi pusat budaya Asia. Sejumlah gedung pertunjukan kelas dunia hadir di negeri kota itu.

Menjawab pertanyaan peserta ‘Forum’ tentang apa politik budaya pemerintahan SBY saat ini, Ibu Julian terdiam sejenak. Ia pun dengan lugas menjawab: “Rasanya jaman dulu itu lebih baik. Saya mengkritik politik kebudayaan jaman Soeharto atau jaman Orba; namun setelah reformasi perkembangan kebudayaan banyak kemunduran karena menjadi bagian pariwisata.”

Kebudayaan, bagi Ibu Julian, hakekatnya tidak semata-mata menjadi bagian dari pariwisata. Pariwisata ada produk service sementara kebudayaan lebih bersifat spiritual dan kepribadian bangsa.”Bukannya tidak boleh, tetapi kebudayaan tidak semata-mata menjadi produk pariwisata,” harapnya.

Di mata Bu Julian, sebuah karya seni tari tidak hanya berkaitan dengan aspek nilai estetika dan rasa. Seni tari sebagai salah satu cabang seni pertunjukkan, dapat digunakan sebagai wahana untuk membangun nilai-nilai sosial-budaya di tengah masyarakat. Bentuk-bentuk seni pertunjukan yang ada sesungguhnya mencerminkan kondisi sosial budaya masyarakat di jamannya.
Di era 1955 sampai 1959 misalnya, papar Ibu Julian, bangsa ini membutuhkan tari nasional untuk mengungkapkan rasa nasionalisme di berbagai bidang. Pidato Bung Karno tentang Manipol-USDEK, salah satunya berkaitan dengan aspek kepribadian nasional. Salah satunya dikaitkan dengan bentuk fisik berkesenian, yaitu seni tari. Bung Karno yang kurang suka menjalin hubungan lebih akrab dengan AS, mendeskripsikan musik rock and roll yang saat itu mewabah di kalangan generasi muda sebagai musik ngak ngik ngok.

Ada keinginan untuk merumuskan identitas kebudayaan nasional. Salah satunya dengan cara ,mengangkat Tari Serampang Duabelas menjadi tari nasional. Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. “Sejak itu, Tarian Serampang Dua Belas populer di seluruh Indonesia. Setelah Soekarno mundur, tarian tersebut tidak berkembang. Sekarang mulai dikembangkan lagi sedikit demi sedikit…., “ katanya. (Teguh Apriliyanto).

FORUM PERCAKAPAN XVIII – Membangun Kepemimpinan yang Efektif

Selalu ada insight segar dari cerita seorang maestro bisnis. Itu rasanya juga dirasakan para undangan ‘Forum Percakapan’ edisi 21 April 2011 lalu. Menghadirkan Hilmi Panigoro – CEO Medco Energy yang kini menduduki pos President Commissioner pada perusahaan yang sama, audience dari kalangan bisnis dan profesional dipastikan tetap dapat menyerap ide dan pemikiran segar sebagai inspirasi mengelola usaha dengan baik.

Dipandu moderator Hatta Triangga – Head of Account Executive Manager DDI, Pak Hilmi membagi value (nilai-nilai) yang ia rumuskan dari pengalaman panjang mengelola bisnis, baik ketika menjadi profesional di HUFFCO/VICO hingga CEO Medco Energy. Intisari value inilah yang kemudian menjadi landasan kuat bagaimana alumnus dari Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung (1981) tersebut mampu membangun kepemimpinan (leadership) secara efektif di Medco. “Melihat partisipan yang hadir di DDI, ibarat menggarami air laut. Namun, apa yang akan saya uraikan lebih berdasarkan pengalaman hidup, baik berkaitan masalah leading atau manajerial,” ungkap peraih MBA dari Thunderbird University Arizona (AS) dan Colorado School of Mines (AS) ini.

Kemampuan leadership Pak Hilmi bukan datang tiba-tiba. Ia tidak tahu persis kapan itu muncul pertama kali. Namun, ia ingat ketika menjadi mahasiswa di ITB pada 1975, ia mampu memotivasi puluhan teman-teman kampusnya membentuk kelompok musik gitar klasik dalam satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Maklum, Pak Hilmi sempat ingin menjadi pemusik klasik profesional. Tidak heran jika dalam satu semester, ia sempat hanya mengambil dua kredit. Tujuannya untuk memuaskan bermain gitar klasik selama tujuh jam sehari. “ Pak Joko – salah seorang dosen saya, mengingatkan untuk lebih serius menyelesaikan perkuliahannya di ITB karena menjadi musisi klasik tidak bisa menjadi duit,” paparnya.

Di akhir tahun, UKM gitar klasik tersebut kemudian menunjukkan kemampuannya setelah berbulan-bulan berlatih keras. Bermula dari UKM inilah, Pak Hilmi belajar mengorganisasi dan memotivasi teman-temannya. “Mereka saya beri partitur musik. Saya juga heran, teman-teman saya adalah mahasiswa yang rajin-rajin belajar tetapi dengan gembira berlatih sebaik mungkin walau tanpa dibayar. Setelah setahun, kita show di TIM dan sukses.”

Kepemimpinan saat mahasiswa begitu berkesan bagi Pak Hilmi. Tanpa disadari, ini menjadi bekal berharga untuk memimpin organisasi bisnis, baik sebagai profesional maupun CEO Medco Energi. Dari pengalaman panjang itulah, ia menyimpulkan apakah mengelola UKM atau perusahaan, pada dasarnya adalah sama, yaitu bagaimana mempengaruhi orang lain untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai satu tujuan bersama. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang hakibatnya adalah membangun budaya yang tepat, agar tujuan organisasi tercapai.

Berawal dari sebuah perusahaan jasa kontraktor swasta bidang pengeboran minyak dan gas bumi di daratan (on shore drilling), Meta Epsi Pribumi Drilling Co. (Medco) yang didirikan Arifin Panigoro pada 13 Desember 1980, melesat menjadi salah satu perusahaan migas nasional yang tangguh. Saat ini Medco Energi beroperasi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga memiliki konsesi eksplorasi di luar negeri, yaitu Oman, Libya, Tunisia, Yaman, dan Amerika Serikat.

Di awal pembangunan Medco, ketika jumlah karyawan baru sekitar lima puluh orang, Pak Hilmi mengungkapkan, perusahaan ini dikelola secara kekeluargaan. Seluruh karyawan kenal satu sama lainnya sehingga koordinasi dan komunikasi begitu fleksibel. “Perusahaan benar-benar dikelola secara total football,” urainya. Namun, ketika Medco membesar hingga jjumlah karyawan mencapai lebih dari empat belas ribu orang, maka cara lama tidak bisa dilaksanakan kembali. Untuk organisasi sebesar Medco Energy dimana unsur keselamatan kerja sangat penting, maka hal utama yang harus dibangun adalah membangun budaya perusahaan yang tepat sehingga karyawan yang begitu banyak dapat bekerja untuk mencapai tujuan bersama, walaupun mungkin mereka tidak saling kenal. Apalagi mereka berasal dari berbagai bangsa dengan latar belakang budaya yang berbeda. Membangun kepemimpinan yang efektif adalah jawaban tantangan tersebut.

Dasar kepemimpinan, menurut Pak Hilmi, adalah bagaimana membangun visi perusahan dan menggerakkan semua orang yang terlibat agar bergairah mewujudkan visi perusahaan tersebut. Setelah bertahun-tahun mengelola Medco, termasuk mengakuisisi sejumlah perusahaan yang masing-masing memiliki nilai–nilai berbeda, Pak Hilmi menyimpulkan empat nilai dasar yang harus ia kembangkan dan menjadi budaya kerja di Medco Energy. Empat nilai mendasar inilah yang diperlukan agar Medco Energy menjadi perusahaan energi yang tangguh. Keempat nilai dasar itu adalah: 1) Profesionalisme (tahu apa yang dikerjakan dan cara mencapai tujuan tersebut, 2) Etika (tidak ada kompromi terhadap segala hal yang berkaitan dengan keselamatan perusahaan), 3) Keterbukaan, dan 4) Inovasi dan kreativitas.

Nilai-nilai inilah yang terus diperkuat di kelompok usaha Medco. Perusahaan telah membentuk satu gugus tugas, semacan tim energizer yang terus menerus menularkan keempat nilai di atas. Medco juga telah merancang leadership develoment program, termasuk mekanisme untuk mengidentifikasi para leader potensial di Medco di masa mendatang. “Pada RUPS tahun ini akan diputuskan jabatan baru HR akan setingkat Direktur. Ini adalah level tertinggi,” ungkapnya. (Teguh Apriliyanto)

FORUM PERCAKAPAN XVII – Berbagi Cerita dan Kebanggan Indonesia

Lounge Kantor Taman Daya Dimensi Indonesia di Kawasan Mega Kuningan siang itu bak kelas bisnis untuk para Corporate Executive Officer (CEO). Sekitar dua jam Theodore Permadi Rachmat menjelaskan intisari pengalaman mengelola bisnis selama 40 tahun dalam ‘Forum Percakapan’ pada 26 Maret 2011 lalu. Sejumlah perusahaan dikelolanya menjadi kelas konglomerat yang disegani, seperti United Tractor, PT Astra International, Adira Finance, Adaro dan terakhir Kelompok Usaha Tri Putra. Butir-butir pemikiran orisinil Pak Teddy pun mengalir lancar tanpa dipersiapkan sebelumnya.

Benang merah pelajaran pertama pengalaman Pak Teddy adalah perlunya memahami competitive edge yang ada sebelum mengelola bisnis. Identifikasi daya saing inilah yang harus dikelola habis-habisan sehingga perusahaan dapat mendominasi bidangnya untuk memenangkan persaingan pasar. Untuk memudahkan pemahaman konsep competitive edge, Pak Teddy mengambil perumpamaan masyarakat China: ‘Jika Anda ingin menjaring banyak ikan, kenalilah samudra yang tepat.’ Cash flow memang harus cukup namun kemampuan mengenali kekuatan daya saing inilah, menjadi faktor kunci keberhasilan bisnis. “Kita tidak bisa bercocok tanam di padang pasir, tetapi harus mampu mencari lahan subur sesuai tanaman tersebut,” ujarnya.

Kemampuan membangun competitive edge tidak akan berarti jika tidak didukung manajemen proses organisasi, antara lain menerapkan standarisasi untuk menjamin kualitas produk dan jasa yang dihasilkan. Ini adalah pelajaran kedua dari Pak Teddy. Proses tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui profesional dan karyawan yang berkarakter dan memiliki gairah atau passion dalam bekerja. Tidak sekadar pandai secara akademis. “ Di sinilah digunakan dan pentingnya DDI. Kita kan tidak mungkin mewawancarai sendiri setiap karyawan selama tiga jam,” ujarnya.

Pelajaran terakhir yang ditawarkan Pak Teddy adalah pentingnya membangun budaya perusahaan yang transparan sehingga tercapai trust antar karyawan dan manajemen. Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu membangun suasana yang menyenangkan dan perasaan bangga dalam perusahaan. Pemimpin sebaliknya tidak perlu kerap marah-marah atau tertutup sehingga menyuburkan politicking di organisasi. “Itu yang dikerjakan di Astra. Coba tanya semua mantan karyawan Astra, mereka bangga setelah pensiun,” jelasnya.

Dipandu Meike Malaon – salah satu founders dan Komisaris PT DDI, suasana percakapan begitu cair. Peserta diskusi dapat memetik pelajaran berharga dari Pak Teddy bagaimana mengelola organisasi bisnis secara tepat dalam dialog bernas. Dengan tangkas Pak Teddy menjawab problem praktis yang dapat ditemui dalam dunia bisnis sehari-hari. Jawabannya pun tidak keluar dari konsep dan teori buku bisnis tetapi datang langsung dari pengalaman praktis ketika ia mengelola usaha atau pengalaman orang lain yang ia peroleh dalam acara jamuan makan malam dan gathering lain.

Sebagian kecil pertanyaan praktis pengeloaan bisnis antara lain: Kapan saat yang tepat menjual perusahaan? atau Bagaimana mengelola kreativitas dan inovasi bisnis, jika dikaitkan dengan implementasi standarisasi untuk menjamin kontrol kualitas proses produksi?

Mendapatkan karyawan atau leader yang tepat, menurut Pak Teddy, adalah faktor penting agar berhasil mengeloa bisnis. Peserta diskusi pun lalu bertanya, bagaimana mengenali profesional dengan karakter yang diperlukan? Kesemua pertanyaan tersebut mampu dijawab Pak Teddy dengan lugas dan contoh konkrit pelaksanaan bisnis di lapangan.

Ketika berada di comfort zone saat berhasil memimpin PT Astra International, Pak Teddy kemudian memutuskan keluar perusahaan untuk membangun bisnis sendiri. Ada satu pertanyaan mengelitik dilontarkan salah seorang peserta dialog. Bagaimana Pak Teddy mampu membangun keberanian dan melonjat ke bidang bisnis baru? Ia pun menjawab dengan jujur bahwa keberanian tersebut harus dilatih karena tidak semua rencana bisnisnya menunjukkan hasil sesuai harapan. “Saya dua kali bangkrut. Dua kali dipecat. Filosofinya sepuluh kali jatuh, sebelas kali bangkit. Ke depan berpikir positif saja. Kalau mau sukses, harus mau ambil risiko,” papar lulusan Institut Tehnologi Bandung tahun 1968 ini.

Ketika sebagian kolega pebisnis telah menikmati masa pensiun, Pak Teddy yang kini telah berusia 67 tahun tetap bergairah mengelola bisnis. Sepanjang tubuh masih sehat dan kuat, ia mengatakan tetap akan membuka lahan usaha baru karena dengan demikian ia akan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Bahkan kepada anak-cucunya ia berpesan untuk tetap mengelola dan membesarkan perusahaan yang telah ia rintis. Ia pun berpesan ke mereka agar tidak lupa menengok anak-anak jalanan yang kerap ditemui di perempatan lampu merah di Jakarta. “Kalian boleh enjoy dalam hidup. Tapi, kalian harus berbagi. Kalian memiliki tanggungjawab ke anak-anak kecil itu suatu ketika kalau saya tidak ada lagi….,” ujarnya lirih. (Teguh Apriliyanto)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.