Percakapan Blog
Just another WordPress.com weblogForum PERCAKAPAN XXII “Teladan Pangeran Diponegoro untuk Masyarakat Kini”
Ada banyak dimensi di sekitar Perang Diponegoro (1825 – 1830). Peristiwa besar itu tidak hanya menawarkan kisah heroik perlawanan bangsa ini atas pendudukan pemerintahan Kolonial Belanda di tanah Jawa. Lebih dari itu, Perang Diponegoro juga memaparkan nilai-nilai kemanusiaan, kesadaran atas nilai kebangsaan, keislaman, sampai percintaan. Tidak heran jika koreografer besar Sardono W. Kusumo menyamakan kisah Perang Diponegoro layaknya epik klasik Ramayana atau Mahabarata.
Kebesaran kisah Diponegoro tidak hanya menyita perhatian para sejarawan, antara lain Prof. Peter Carey; Chairil Anwar – penyair besar itu pun kagum akan sosok Pangeran ini. Sampai sekarang, sajak dengan judul “Diponegoro” terpatri di salah satu sudut Taman Ismail Marzuki. Pertimbangan itu pula lah yang rasanya melandasi Rozan Anwar – Komisaris sekaligus Founder Daya Dimensi Indonesia (DDI) memanggungkan ulang Opera Diponegoro di Teater Jakarta pada 11, 12,13 November 2011.
Karya Sardono yang pertama kali dipentaskan pada Indonesia Art Summit (1995) tersebut, kembali diaktualisasikan dengan tema “Opera Java War”. Pertunjukan ini didukung oleh sekitar 70 seniman tari, teater, musik dari Yogyakarta dan Surakarta. Even kali ini terasa istimewa karena menghadirkan Iwan Fals yang menulis 10 lagu baru berdasarkan syair yang ditulis Pangeran Diponegoro. Nyanyian merdu Iwan menjadi penghantar perpindahan antar babak dalam pertunjukan. Otobiografi Pangeran Diponegoro sepanjang 800 halaman itu, ditulis selama sembilan bulan, mulai 13 November 1813. Naskah ini didektekan kepada kerabat, dan bahkan sebagian ditulisnya sendiri, di daerah pembuanganya di Manado, menjelang umurnya yang kelima puluh.
Sementara itu, reproduksi lukisan raksasa yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro di rumah Karesidenan Magelang, pada suatu pagi 28 Maret 1830, menjadi background panggung. Karya Raden Saleh benar-benar bertindak sebagai rujukan ikonografis yang sangat penting dimana ide-ide visual pertunjukan ini mendapatkan bentuknya.
Puluhan pengunjung “Forum Percakapan” yang memenuhi Lounge Kantor Taman pada 6 Desember 2011, kembali mendapatkan pelajaran berarti tentang Perang Diponegoro. Selain Mas Don, ‘Forum Percakapan’ juga menghadirkan Prof. Carey yang juga menulis “An Account of the Outbreak of the Java War”. Sejarawan Inggris tersebut menguraikan, Perang Diponegoro membuka dimensi baru perlawanan bangsa Indonesia ke pemerintahan kolonial Belanda.
Totalitas alumnus Cornell University itu memang patut diapresiasi. Carey telah mendedikasikan hidupnya sejak Desember 1971 untuk mendalami kajian tentang Pangeran Diponegoro. Sebelumnya, ia mengaku tidak tahu tentang sosok Diponegoro. Di akhir 1971, ia mendapat kesempatan berkunjung ke Yogjakarta. Seperti layaknya bule asing, ia pun mengunjungi berbagai atraksi kebudayaan setempat, antara lain melihat pagelaran wayang kulit di Desa Tegalrejo – tempat kelahiran Diponegoro. Entah bagaimana, sejak itu ia seolah mendapat hubungan aneh untuk mengetahui sosok Diponegoro hingga sekarang.
Cakupannya yang luas, melibatkan seluruh level masyarakat, ditambah adanya inspirasi keislaman, membuat Perang Diponegoro betul-betul membuat posisi Belanda terancam di Jawa. Luasnya dukungan rakyat, jumlah korban, biaya yang dikeluarkan serta kharisma kepemimpinanya, menjadikan perang ini sebagai simbol perlawanan paling popular. Perang Diponegoro, betapapun telah merubah secara mendalam pola dan struktur kolonial Belanda, serta mengantarkan watak perjuangan rakyat pada dimensinya yang baru.
Kini, ketika peristiwa itu telah berlangsung hampir 200 tahun lebih, idealisme yang melatarbelakangi perjuangan Pangeran Diponegoro masih tetap memiliki makna. Perang Diponegoro adalah simbol perlawanan atas kesewenangwenangan penguasa atau elite setempat yang didukung Pemerintahan kolonial Belanda. Perang ini juga menunjukkan adanya identitas bangsa dan aktualisasi nilai-nilai Islam Jawa. Isu-isu besar itu pun rasanya masih tetap relevan untuk diperjuangkan saat ini. Masalah ketidakadilan serta mulai kaburnya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman, adalah persoalan nyata di masyarakat yang harus terus diperjuangkan.*** (Teguh A).
FORUM PERCAKAPAN XX – Daya Tarik Indonesia untuk Investasi
Kepercayaan. Kepercayaan. Kepercayaan.
Kata di atas rupanya menjadi kunci utama kesuksesan Patrick Walujo – CoFounder dan CoManaging Director Northstar Equity Partners (NEP). Di usia yang ke-34 tahun, alumnus Cornell University ini telah mengelola dana investor asing yang menanamkan bisnisnya di Indonesia, melalui tiga kali proses fund rising (2006,2008, dan 2011). Jika di awal fun rising baru mampu menggaet dana asing 10 juta dla AS, maka total nilai investasi asing yang dikelola NEP sampai 2011 melonjak mencapai sekitar satu milyar dolar AS.
Pak Patrick mengungkapkan sejumlah kiat berharga bagaimana ia membesarkan perusahan investasi yang dikelolanya melalui ‘Forum Percakapan’ di Lounge Leadership Kantor DDI di Kawasan Mega Kuningan Jakarta,15 September 2011. Masih dalam suasana perayaan Idul Fitri 1432 Hijriah, dipandu Ibu Aprilia Safarini – Group Head Acquisition DDI, dialog yang dihadiri para profesional mitra DDI tersebut belangsung hangat dan bermanfaat.
Kepercayaan yang diperoleh Pak Patrick dari para investor luar negeri bukan datang tiba-tiba. Maklum, sebelum mendirikan NPG, Pak Patrick telah bekerja di sejumlah perusahaan investasi asing terkemuka, yaitu sebagai Associate Investment Banking Division di Goldman, Sach & Co di London dan New York serta Senior Vice President Pasific Century Group di Tokyo. Kepercayaan tersebut, ulas Pak Patrick, harus dibuktikan di lapangan melalui praktik good corporate governance (antara lain keterbukaan) dan good management yang ujung-ujungnya mampu menghasilkan keuntungan signifikan buat investor.
Untuk suksesnya investasi, Patrick melihat manajemen merupakan faktor yang cukup menentukan. untuk itu, ia harus bermitra dan mendapatkan manajer-manajer terbaik. Insentif para manajer tersebut sejajar dengan Northstar, sehingga mereka benar-benar berpikir dan berperilaku sebagai pemilik. Pak Patrick juga lebih senang jika dapat bermitra dengan manajemen lokal Indonesia. “Kami sendiri orang Indonesia. Kami tidak perlu lagi mengajarkan budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia kepada manajer Indonesia,” tambahnya.
Orang kerap salah menafsirkan NEP sebagai perusahaan asing, khususnya dikait-kaitkan dengan Texas Pacific Group (TPG), salah satu private equity fund terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$ 40 miliar. Persepsi publik ini bisa dipahami karena pada akhir November 2006, eksekutif NEP bersama eksekutif TPG sempat diterima Presiden RI di Istana Negara. Tentang hal ini, Pak Patrick menegaskan jika NEP bukanlah agen ataupun mediator TPG. NEP adalah private equity fund yang didedikasikan untuk investasi di Indonesia. “Investor NEP berasal dari lembaga keuangan internasional seperti dana pensiun, dana abadi lembaga pendidikan (university endowment fund), perbankan, dan sebagainya,” katanya.
Dalam berbisnis, manajer investasi NEP dikontrol Northstar Pacific sebagai pemegang saham mayoritas. Adapun TPG menjadi salah satu pemegang saham minoritas. Tidak heran jika hubungan NEP dengan TPG sangat dekat. TPG adalah lembaga pertama yang akan diundang NPG ketika menawarkan kegiatan investasi di Indonesia.
Di usia yang baru sekitar satu dekade, diam-diam kiprah NEP telah menjadi private equity fund terkemuka di Indonesia, misalnya berperan dalam pengambilalihan BTPN, PT Adaro, dan PT Alfa Retailindo Tbk. Soal pilihan investasi, Patrick menyebutkan, pihaknya memilih sektor-sektor di mana Indonesia memiliki keunggulan dibanding negara tetangga, terutama fokus di bisnis yang berbasis sumber daya alam dan bidang-bidang yang dimotori putra Indonesia.
Perjalanan NEP tidak hanya menorehkan keuntungan dan kisah sukses. Pak Patrick pun mengakui pernah mengalami kegagalan dan salah perhitungan dalam berbisnis, antara lain ketika memutuskan untuk masuk dalam bisnis mining batubara yang sempat booming. Namun, kepercayaan investor akan pulih, ketika ia mampu mengungkapkan fakta kebenaran ini kepada investor sekaligus memberikan rekomendasi pembenahan yang akan dilaksanakan.
Dalam pengamatan Patrick, ketertarikan TPG dan investor NEP lainnya menanamkan modal di Indonesia adalah karena Indonesia dinilai sebagai negara ketiga terbesar di Asia yang pertumbuhan ekonominya cukup baik, setelah China dan India. “Jumlah penduduknya besar dan sumber daya alamnya berlimpah. Apalagi kondisi politik dan proses demokratisasinya berjalan cukup baik,” tambahnya.
Tentang penilaian tingginya biaya transaksional di Indonesia kentalnya praktik KKN, Pak Patrick mempunyai pandangan lain. Setiap investor pasti memiliki penilaian masing-masing berkaitan dengan risk dan reward ketika akan memutuskan berbisnis di negara asing. Masalah transaksional juga dialami di negara – negara Asia Pasifik lainnya baik di India, China, Thailand dan Filipina. “Semua sama. Hanya Hong Khong dan Singapura yang lebih baik. Indonesia is journey. Ada perkembangan sosial politik yang membuat kita tetap optimis terhadap Indonesia,” tutupnya. (Teguh Apriliyanto)
FORUM PERCAKAPAN XIX – Politik Budaya Seni Pertunjukan Indonesia
Setelah absen tiga bulan, ‘Forum Percakapan’ – perbincangan informal antar profesional, kembali digelar di Lounge Leadership, Kantor DDI Mega Kuningan 28 Juli 2011. Dipandu founder dan Komisaris DDI, Dr. Rozan Anwar, Forum menghadirkan Julianti Lakshmi Parani, Ph.D.; mengangkat tema: “Seni Pertunjukan Indonesia: Suatu Politik Budaya.”
Ibu Julian adalah sosok budayawan lengkap. Ia balerina dan koreografer terkenal seangkatan Farida Faisol. Juga tercatat sebagai pelaku aktif di balik berdirinya Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki. Selain sebagai pendidik atau dosen di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), ia juga aktif meneliti sejarah Indonesia di Arsip Nasional (1980 -1995). Sebagai pembina kesenian Betawi, kontribusinya cukup bermakna dalam mengembangkan kebudayaan Betawi. Atas dedikasinya tersebut, Pemda DKI Jakarta memberikan penghargaan pada 25 September 2010.
Usia yang telah memasuki dekade ketujuh tidak menghentikan Ibu Julian berkarya. Peraih gelar doktor dari South East Asia Study Program, National University Singapore tersebut, tetap tercatat sebagai peneliti independen sekaligus pengajar di IKJ dan Program Pascasarnaja Urban Art IKJ dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.
Para profesional – yang sebagian besar berasal dari kalangan bisnis, yang hadir dalam “Percakapan” rasanya terbuka akan pentingnya sebuah bentuk kesenian. Membandingkan kondisi negeri mini Singapura dengan Indonesia, rasanya menyadarkan mereka bahwa perhatian pemerintah masih belum cukup serius memperhatikan kebudayaan. Kepemerintahan negeri ini rasanya belum memiliki politik kebudayaan yang jelas. Bandingkan dengan Singapura yang berambisi menjadi pusat budaya Asia. Sejumlah gedung pertunjukan kelas dunia hadir di negeri kota itu.
Menjawab pertanyaan peserta ‘Forum’ tentang apa politik budaya pemerintahan SBY saat ini, Ibu Julian terdiam sejenak. Ia pun dengan lugas menjawab: “Rasanya jaman dulu itu lebih baik. Saya mengkritik politik kebudayaan jaman Soeharto atau jaman Orba; namun setelah reformasi perkembangan kebudayaan banyak kemunduran karena menjadi bagian pariwisata.”
Kebudayaan, bagi Ibu Julian, hakekatnya tidak semata-mata menjadi bagian dari pariwisata. Pariwisata ada produk service sementara kebudayaan lebih bersifat spiritual dan kepribadian bangsa.”Bukannya tidak boleh, tetapi kebudayaan tidak semata-mata menjadi produk pariwisata,” harapnya.
Di mata Bu Julian, sebuah karya seni tari tidak hanya berkaitan dengan aspek nilai estetika dan rasa. Seni tari sebagai salah satu cabang seni pertunjukkan, dapat digunakan sebagai wahana untuk membangun nilai-nilai sosial-budaya di tengah masyarakat. Bentuk-bentuk seni pertunjukan yang ada sesungguhnya mencerminkan kondisi sosial budaya masyarakat di jamannya.
Di era 1955 sampai 1959 misalnya, papar Ibu Julian, bangsa ini membutuhkan tari nasional untuk mengungkapkan rasa nasionalisme di berbagai bidang. Pidato Bung Karno tentang Manipol-USDEK, salah satunya berkaitan dengan aspek kepribadian nasional. Salah satunya dikaitkan dengan bentuk fisik berkesenian, yaitu seni tari. Bung Karno yang kurang suka menjalin hubungan lebih akrab dengan AS, mendeskripsikan musik rock and roll yang saat itu mewabah di kalangan generasi muda sebagai musik ngak ngik ngok.
Ada keinginan untuk merumuskan identitas kebudayaan nasional. Salah satunya dengan cara ,mengangkat Tari Serampang Duabelas menjadi tari nasional. Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960. “Sejak itu, Tarian Serampang Dua Belas populer di seluruh Indonesia. Setelah Soekarno mundur, tarian tersebut tidak berkembang. Sekarang mulai dikembangkan lagi sedikit demi sedikit…., “ katanya. (Teguh Apriliyanto).
FORUM PERCAKAPAN XVIII – Membangun Kepemimpinan yang Efektif
Selalu ada insight segar dari cerita seorang maestro bisnis. Itu rasanya juga dirasakan para undangan ‘Forum Percakapan’ edisi 21 April 2011 lalu. Menghadirkan Hilmi Panigoro – CEO Medco Energy yang kini menduduki pos President Commissioner pada perusahaan yang sama, audience dari kalangan bisnis dan profesional dipastikan tetap dapat menyerap ide dan pemikiran segar sebagai inspirasi mengelola usaha dengan baik.
Dipandu moderator Hatta Triangga – Head of Account Executive Manager DDI, Pak Hilmi membagi value (nilai-nilai) yang ia rumuskan dari pengalaman panjang mengelola bisnis, baik ketika menjadi profesional di HUFFCO/VICO hingga CEO Medco Energy. Intisari value inilah yang kemudian menjadi landasan kuat bagaimana alumnus dari Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung (1981) tersebut mampu membangun kepemimpinan (leadership) secara efektif di Medco. “Melihat partisipan yang hadir di DDI, ibarat menggarami air laut. Namun, apa yang akan saya uraikan lebih berdasarkan pengalaman hidup, baik berkaitan masalah leading atau manajerial,” ungkap peraih MBA dari Thunderbird University Arizona (AS) dan Colorado School of Mines (AS) ini.
Kemampuan leadership Pak Hilmi bukan datang tiba-tiba. Ia tidak tahu persis kapan itu muncul pertama kali. Namun, ia ingat ketika menjadi mahasiswa di ITB pada 1975, ia mampu memotivasi puluhan teman-teman kampusnya membentuk kelompok musik gitar klasik dalam satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Maklum, Pak Hilmi sempat ingin menjadi pemusik klasik profesional. Tidak heran jika dalam satu semester, ia sempat hanya mengambil dua kredit. Tujuannya untuk memuaskan bermain gitar klasik selama tujuh jam sehari. “ Pak Joko – salah seorang dosen saya, mengingatkan untuk lebih serius menyelesaikan perkuliahannya di ITB karena menjadi musisi klasik tidak bisa menjadi duit,” paparnya.
Di akhir tahun, UKM gitar klasik tersebut kemudian menunjukkan kemampuannya setelah berbulan-bulan berlatih keras. Bermula dari UKM inilah, Pak Hilmi belajar mengorganisasi dan memotivasi teman-temannya. “Mereka saya beri partitur musik. Saya juga heran, teman-teman saya adalah mahasiswa yang rajin-rajin belajar tetapi dengan gembira berlatih sebaik mungkin walau tanpa dibayar. Setelah setahun, kita show di TIM dan sukses.”
Kepemimpinan saat mahasiswa begitu berkesan bagi Pak Hilmi. Tanpa disadari, ini menjadi bekal berharga untuk memimpin organisasi bisnis, baik sebagai profesional maupun CEO Medco Energi. Dari pengalaman panjang itulah, ia menyimpulkan apakah mengelola UKM atau perusahaan, pada dasarnya adalah sama, yaitu bagaimana mempengaruhi orang lain untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai satu tujuan bersama. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang hakibatnya adalah membangun budaya yang tepat, agar tujuan organisasi tercapai.
Berawal dari sebuah perusahaan jasa kontraktor swasta bidang pengeboran minyak dan gas bumi di daratan (on shore drilling), Meta Epsi Pribumi Drilling Co. (Medco) yang didirikan Arifin Panigoro pada 13 Desember 1980, melesat menjadi salah satu perusahaan migas nasional yang tangguh. Saat ini Medco Energi beroperasi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga memiliki konsesi eksplorasi di luar negeri, yaitu Oman, Libya, Tunisia, Yaman, dan Amerika Serikat.
Di awal pembangunan Medco, ketika jumlah karyawan baru sekitar lima puluh orang, Pak Hilmi mengungkapkan, perusahaan ini dikelola secara kekeluargaan. Seluruh karyawan kenal satu sama lainnya sehingga koordinasi dan komunikasi begitu fleksibel. “Perusahaan benar-benar dikelola secara total football,” urainya. Namun, ketika Medco membesar hingga jjumlah karyawan mencapai lebih dari empat belas ribu orang, maka cara lama tidak bisa dilaksanakan kembali. Untuk organisasi sebesar Medco Energy dimana unsur keselamatan kerja sangat penting, maka hal utama yang harus dibangun adalah membangun budaya perusahaan yang tepat sehingga karyawan yang begitu banyak dapat bekerja untuk mencapai tujuan bersama, walaupun mungkin mereka tidak saling kenal. Apalagi mereka berasal dari berbagai bangsa dengan latar belakang budaya yang berbeda. Membangun kepemimpinan yang efektif adalah jawaban tantangan tersebut.
Dasar kepemimpinan, menurut Pak Hilmi, adalah bagaimana membangun visi perusahan dan menggerakkan semua orang yang terlibat agar bergairah mewujudkan visi perusahaan tersebut. Setelah bertahun-tahun mengelola Medco, termasuk mengakuisisi sejumlah perusahaan yang masing-masing memiliki nilai–nilai berbeda, Pak Hilmi menyimpulkan empat nilai dasar yang harus ia kembangkan dan menjadi budaya kerja di Medco Energy. Empat nilai mendasar inilah yang diperlukan agar Medco Energy menjadi perusahaan energi yang tangguh. Keempat nilai dasar itu adalah: 1) Profesionalisme (tahu apa yang dikerjakan dan cara mencapai tujuan tersebut, 2) Etika (tidak ada kompromi terhadap segala hal yang berkaitan dengan keselamatan perusahaan), 3) Keterbukaan, dan 4) Inovasi dan kreativitas.
Nilai-nilai inilah yang terus diperkuat di kelompok usaha Medco. Perusahaan telah membentuk satu gugus tugas, semacan tim energizer yang terus menerus menularkan keempat nilai di atas. Medco juga telah merancang leadership develoment program, termasuk mekanisme untuk mengidentifikasi para leader potensial di Medco di masa mendatang. “Pada RUPS tahun ini akan diputuskan jabatan baru HR akan setingkat Direktur. Ini adalah level tertinggi,” ungkapnya. (Teguh Apriliyanto)
FORUM PERCAKAPAN XVII – Berbagi Cerita dan Kebanggan Indonesia
Lounge Kantor Taman Daya Dimensi Indonesia di Kawasan Mega Kuningan siang itu bak kelas bisnis untuk para Corporate Executive Officer (CEO). Sekitar dua jam Theodore Permadi Rachmat menjelaskan intisari pengalaman mengelola bisnis selama 40 tahun dalam ‘Forum Percakapan’ pada 26 Maret 2011 lalu. Sejumlah perusahaan dikelolanya menjadi kelas konglomerat yang disegani, seperti United Tractor, PT Astra International, Adira Finance, Adaro dan terakhir Kelompok Usaha Tri Putra. Butir-butir pemikiran orisinil Pak Teddy pun mengalir lancar tanpa dipersiapkan sebelumnya.
Benang merah pelajaran pertama pengalaman Pak Teddy adalah perlunya memahami competitive edge yang ada sebelum mengelola bisnis. Identifikasi daya saing inilah yang harus dikelola habis-habisan sehingga perusahaan dapat mendominasi bidangnya untuk memenangkan persaingan pasar. Untuk memudahkan pemahaman konsep competitive edge, Pak Teddy mengambil perumpamaan masyarakat China: ‘Jika Anda ingin menjaring banyak ikan, kenalilah samudra yang tepat.’ Cash flow memang harus cukup namun kemampuan mengenali kekuatan daya saing inilah, menjadi faktor kunci keberhasilan bisnis. “Kita tidak bisa bercocok tanam di padang pasir, tetapi harus mampu mencari lahan subur sesuai tanaman tersebut,” ujarnya.
Kemampuan membangun competitive edge tidak akan berarti jika tidak didukung manajemen proses organisasi, antara lain menerapkan standarisasi untuk menjamin kualitas produk dan jasa yang dihasilkan. Ini adalah pelajaran kedua dari Pak Teddy. Proses tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui profesional dan karyawan yang berkarakter dan memiliki gairah atau passion dalam bekerja. Tidak sekadar pandai secara akademis. “ Di sinilah digunakan dan pentingnya DDI. Kita kan tidak mungkin mewawancarai sendiri setiap karyawan selama tiga jam,” ujarnya.
Pelajaran terakhir yang ditawarkan Pak Teddy adalah pentingnya membangun budaya perusahaan yang transparan sehingga tercapai trust antar karyawan dan manajemen. Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu membangun suasana yang menyenangkan dan perasaan bangga dalam perusahaan. Pemimpin sebaliknya tidak perlu kerap marah-marah atau tertutup sehingga menyuburkan politicking di organisasi. “Itu yang dikerjakan di Astra. Coba tanya semua mantan karyawan Astra, mereka bangga setelah pensiun,” jelasnya.
Dipandu Meike Malaon – salah satu founders dan Komisaris PT DDI, suasana percakapan begitu cair. Peserta diskusi dapat memetik pelajaran berharga dari Pak Teddy bagaimana mengelola organisasi bisnis secara tepat dalam dialog bernas. Dengan tangkas Pak Teddy menjawab problem praktis yang dapat ditemui dalam dunia bisnis sehari-hari. Jawabannya pun tidak keluar dari konsep dan teori buku bisnis tetapi datang langsung dari pengalaman praktis ketika ia mengelola usaha atau pengalaman orang lain yang ia peroleh dalam acara jamuan makan malam dan gathering lain.
Sebagian kecil pertanyaan praktis pengeloaan bisnis antara lain: Kapan saat yang tepat menjual perusahaan? atau Bagaimana mengelola kreativitas dan inovasi bisnis, jika dikaitkan dengan implementasi standarisasi untuk menjamin kontrol kualitas proses produksi?
Mendapatkan karyawan atau leader yang tepat, menurut Pak Teddy, adalah faktor penting agar berhasil mengeloa bisnis. Peserta diskusi pun lalu bertanya, bagaimana mengenali profesional dengan karakter yang diperlukan? Kesemua pertanyaan tersebut mampu dijawab Pak Teddy dengan lugas dan contoh konkrit pelaksanaan bisnis di lapangan.
Ketika berada di comfort zone saat berhasil memimpin PT Astra International, Pak Teddy kemudian memutuskan keluar perusahaan untuk membangun bisnis sendiri. Ada satu pertanyaan mengelitik dilontarkan salah seorang peserta dialog. Bagaimana Pak Teddy mampu membangun keberanian dan melonjat ke bidang bisnis baru? Ia pun menjawab dengan jujur bahwa keberanian tersebut harus dilatih karena tidak semua rencana bisnisnya menunjukkan hasil sesuai harapan. “Saya dua kali bangkrut. Dua kali dipecat. Filosofinya sepuluh kali jatuh, sebelas kali bangkit. Ke depan berpikir positif saja. Kalau mau sukses, harus mau ambil risiko,” papar lulusan Institut Tehnologi Bandung tahun 1968 ini.
Ketika sebagian kolega pebisnis telah menikmati masa pensiun, Pak Teddy yang kini telah berusia 67 tahun tetap bergairah mengelola bisnis. Sepanjang tubuh masih sehat dan kuat, ia mengatakan tetap akan membuka lahan usaha baru karena dengan demikian ia akan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Bahkan kepada anak-cucunya ia berpesan untuk tetap mengelola dan membesarkan perusahaan yang telah ia rintis. Ia pun berpesan ke mereka agar tidak lupa menengok anak-anak jalanan yang kerap ditemui di perempatan lampu merah di Jakarta. “Kalian boleh enjoy dalam hidup. Tapi, kalian harus berbagi. Kalian memiliki tanggungjawab ke anak-anak kecil itu suatu ketika kalau saya tidak ada lagi….,” ujarnya lirih. (Teguh Apriliyanto)
FORUM PERCAKAPAN XVI – Mari Bicara CSR!
Berbuat baik ke sesama dan lingkungan sekitar bukan lah ‘biaya’ bagi dunia bisnis. Tanpa disadari, berbagai program dan kegiatan sosial-kemasyarakatan, yang dikenal dengan istilah CSR (Corporate Social Responsibility), jika dirancang secara tepat, justru menjadi investasi jangka panjang menguntungkan. Pandangan tersebut bukan sekadar pernyataan teoritis normatif tetapi sudah dirasakan manfaatnya di lapangan. Ibu Sri Urip – pelaku aktif bisnis lebih dari tiga dekade, percaya betul atas manfaat kegiatan CSR bagi pembangunan daya saing perusahaan.
Berbicara dalam ‘Forum Percakapan’ yang diselenggarakan di Kantor Taman Daya Dimensi Indonesia Kawasan Mega Kuningan Jakarta pada minggu pertama Desember 2010, Ibu Sri menjelaskan konsep CSR mulai banyak diterapkan di Indonesia pada 2000. Namun, waktu itu banyak perusahaan masih menganggap CSR sebagai bagian dari cost perusahaan, bukannya sebagai bagian investasi pengembangan binis. Pandangan tersebut berangsur-angsur bergeser. Ibu Sri lalu menunjuk kasus perusahaan raksasa sepatu dunia ‘Nike’.
Brand Nike, menurut Ibu Sri, sempat rusak pamornya ketika diterpa isu tidak sedap karena menggunakan buruh murah di negara-negara dunia ketiga. Lingkungan kerja mereka pun dikritik sejumlah kalangan. Akibat fenomena globalisasi, isu yang dihembuskan di belahan dunia ketiga, bisa berpengaruh di bagian lain. Isu-isu yang mampu mempengaruhi reputasi bisnis tidak hanya berkaitan dengan masalah sosial tetapi juga menyangkut isu lingkungan hidup. Melalui penerapan strategi CSR yang tepat, papar alumnus Teknik Kimia UGM tersebut, perusahaan justru mampu mencapai competitive edge yang diharapkan.
Berdasarkan pengalaman mengelola praktik CSR puluhan tahun, wanita yang saat ini menjabat CEO dan komisaris sejumlah organisasi bisnis tersebut akhirnya berhasil menulis buku tentang CSR berjudul: “CSR Strategies for a Competitive Edge in Emerging Markets”. Berbicara tentang CSR pada dasanya adalah bagaimana korporat mampu merancang program dan kegiatan secara tepat kepada komunitas sasaran yang menjadi penerimanya. Kesimpulannya mendasar buku tersebut adalah bagaimana program dan kegiatan CSR tersebut dapat direalisasikan sesuai dengan keinginan perusahaan sehingga tujuan dan sasaran yang ingin dicapai korporat dapat diwujudkan di lapangan.
“Forum Percakapan” dipandu Bapak Tri Handoko – Direktur Yayasan Indonesia Lebih Baik, sebuah organisasi nir-laba yang dibangun DDI untuk menerjemahkan konsep CSR perusahaan. Pada kesempatan ini juga dihadirkan Bapak Sarwono Kusumaatmadja. Mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1988-1993) dan Menteri Lingkungan hidup. (1993 – 1998) tersebut menguraikan elemen dan prinsip-prinsip dasar CSR. Ia menjelaskan praktik CSR merupakan tindakan korporate yang memajukan semua pihak yang ada urusan dengan korporate baik langsung atau tidak langsung melalui berbagai macam program pemberdayaan sosial, berdasarkan konsep win-win. Ini dapat dipahami karena di satu sisi korporat memerlukan dukungan dari masyarakat (termasuk karyawan internal), yang tidak bisa dimodifikasi dengan uang. Dukungan tersebut dapat berupa indeks kepuasan atau harapan masyakat yang tidak ada ukuran kuantitatifnya.
“Forum Percakapan” dengan tema: “Mari Bicara CSR” adalah even keempatbelas yang diselenggarakan bertepatan dengan berkahirnya tahun 2010. Tujuan DDI menggagas forum ini adalah sebagai wadah informal pembelajaran informasi di kalangan profesional.
Melalui forum bulanan inilah, sebuah komunitas yang umumnya merupakan mitra kerja DDI dari kalangan bisnis, masyarakat sipil, dan pemerintah berinteraksi sehingga mempunyai hubungan jangka panjang. Beragam topik dibicarakan dalam acara bincang-bincang yang dibangun dalam suasana non-formal ini. Mulai dari masalah reformasi birokrasi, menumbuhkan rasa nasionalisme sampai obrolan ringan tentang tata ruang di DKI Jakarta atau topik memilih trend kuliner yang sehat.
Tahun 2010 telah berakhir tetapi “Forum Percakapan” dipastikan akan terus dilaksanakan pada 2011 mendatang. Selamat Tahun Baru 2011. Selamat memasuki tahun kelinci logam, yang dianggap sebagai tahun penuh cinta, menurut mitologi bangsa China. Semoga energi cinta yang sangat kuat dapat mendorong resolusi perusahaan Anda dalam meraih tujuan dan sasaran yang diteteapkan”, Jelasnya (Teguh A.)
FORUM PERCAKAPAN XV – Terobosan Pemimpin Muda di Organisasi Mapan
Oktober adalah milik pemuda. Tidak mengherankan jika tiga hari menjelang perayaan nasional “Hari Sumpah Pemuda”, “Forum Percakapan” memilih tema: “Terobosan Pemimpin Muda di Organisasi Mapan”. Tamu yang dihadirkan pun berasal dari generasi muda, yaitu: Prof. Dr. Fimanzah, PhD (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) dan Kartika Wirjoatmodjo (Managing Director PT Mandiri Sekuritas).
Usia memang tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan pikir dan bertindak. Mitra kerja DDI yang hadir di “Percakapan” tetap mendapatkan gagasan, inspirasi, dan ide segar dari acara ini. Dipandu Ghita A. Utoyo – konsultan DDI, perbincangan selama dua jam di lobi Kantor Taman Mega Kuningan pada 25 Oktober 2010 itu, terasa singkat.
Pada situasi saat ini, menjadi pemimpin muda di suatu organiasasi mapan yang sudah memiliki reputasi membanggakan, terkadang tidaklah nyaman. Ada semacam tekanan yang lebih besar. Paling tidak itu dikemukakan oleh Prof. Firmanzah yang berhasil menjadi wisudawan teladan FE UI dari Departemen Manajemen pada 1998 itu. “Ekspektasi orang jauh lebih tinggi, sehingga jika kita melakukan kesalahan dianggap kecelakaan. Sementara bagi kalangan senior, kesalahan adalah sebuah kewajaran,” ujar doktor lulusan University of Pau et Pays de I’Adour Perancis pada tahun 2005 ini.
Prof. Firman pun membagi sejumlah tips bagaimana leader dapat sukses memainkan peran dan fungsinya di dalam sebuah organisasi yang berada di tengah situasi sosial budaya masyarakat Indonesia. Di satu sisi, akibat keterbukaan dengan dunia luar, masyarakat Indonesia dihadapkan pada fenomena globalisasi, perkembangan teknologi informasi dan transportasi yang berjalan begitu cepat. Di sisi lain, leader harus sadar akan kenyataan masih rendahnya kelompok menengah sehingga pola pikir masyarakat masih tradisional dan belum rasional seperti masyarakat negara maju di Eropa Barat, Jepang, Amerika serikat, dan Australia.
Untuk itu, agar berhasil memerankan tugas dan fungsinya, Prof. Firman berpesan agar seorang leader di Indonesia memahami nilai-nilai sosial budaya masyarakat Indonesia sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan dan ide, agar dapat merubah proses bisnis. “Leader harus mampu berdiri dalam posisi berbeda-beda, kapan menerapkan standarisasi global sekaligus menyesuaikan dengan muatan lokal yang ada,” paparnya.
Bagi Pak Kartika, tantangan yang harus dihadapi leader di Indonesia saat ini adalah bagaimana membangun visi dan misi organisasi yang kuat, kemudian membangun budaya organisasi sehingga dapat menterjemahkan visi misi tersebut, sekaligus mengimplementasikan dalam business process. Dengan demikian konsep yang telah dicanangkan dapat diterjemahkan dalam kegiatan konkrit untuk menghasilkan nilai tambah bagi organisasi. “Bangsa ini sudah memiliki begitu banyak pengamat dengan konsep-konsepnya,” katanya.
Berkaitan dengan hal di atas, Pak Kartika beruntung karena bekerja di Bank Mandiri, sebuah lembaga keuangan besar di Indonesia, yang telah mengalami transformasi rekapitulasi dana sebesar 1700 triliun. Bank Mandiri sebagai hasil merger dari beberapa Bank pemerintah, dituntut untuk survive dan compete dengan kondisi bisnis keuangan yang terbuka di Indonesia. Agar organisasi dapat melewati perubahan dengan baik maka hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana organisasi dapat mengelola karyawan dengan baik. Cikal bakal Bank Mandiri, urai Pak Kartika, sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Dengan demikian, budaya organisasi sudah terbangun sejak puluhan tahun. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menggabungkan budaya antara karyawan yang sudah ada dengan ide-ide segar dari telent baru yang masuk dalam organisasi. Ini adalah tantangan yang harus dihadapai organisasi.
Seorang leader, papar Pak Kartika, harus lebih melakukan action, lebih sabar dan mampu mendeteksi sumber perubahan, dengan menggabungkan ninlai-nilai lokal dengan ide-ide segar. Nilai-nilai yang datang dari eksternal organisasi tanpa adanya support dari nilai-nilai lokal tidak akan berjalan. “Tetapi, tanpa ada ide-ide segar dari luar, maka tidak akan ada kemajuan. Kondisi ini terjadi baik di organisasi pemerintah maupun organisasi private,” jelasnya. [Teguh A.]
FORUM PERCAKAPAN XIV – Ekonomi Hijau untuk Indonesia Lebih Baik
Isu peduli lingkungan bukan sekadar tren gaya hidup musiman. Itu sudah menjadi sebuah ‘ideologi’ – yang mengatur seluruh gerak hidup seseorang. Para dimensioner – begitu biasa staf dan associated Daya Dimensi Indonesia dipanggil, beserta para mitra bisnis, patut bersyukur mendengar ide-ide besar langsung dari Emil Salim. Bincang-bincang santai tapi serius dalam ‘Forum Percakapan’ Senin 26 Juli 2010 itu berlangsung hampir dua jam. Namun, tidak semua audience yang mengacungkan tangan, mendapatkan kesempatan untuk bertanya atau melontarkan pandangan, menanggapi ceramah Pak Emil.
Guru besar emeritus FE UI itu tetap konsisten dengan ide besar pembangunan yang tidak semata-mata mengejar pertumbuhan. Bagi ilmuan yang tetap dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 10 April 2007 itu, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hendaknya dicapai tanpa merusak lingkungan. Ia menegaskan paradigma pembangunan di Indonesia harus dirubah. Tidak hanya berdasarkan pendekatan ekonomi tetapi juga menggunakan pendekatan ekosistem berbasis keanekeragaman alam budaya dan sistem sosial. “Jangan robek bangunan jejaring tersebut,” tegas Menteri Perhubungan dan Menteri Lingkungan Hidup di era Presiden Seoharto itu.
Dipandu Associate Director DDI Rainier Turangan, pria kelahiran Lahat – Sumatera Selatan, 8 Juni 1930 itu, begitu fasih menguraikan butir-butir pemikiran bernas bagaimana memperkokoh bangunan Indonesia sebagai bangsa majemuk. Pemikiran Emil tidak hanya men-copy paste pandangan ilmuan lain. Jika dicermati dengan benar, pandangan-pandangan Emil tersebut mencerminkan kekayaan pengalaman praktisnya nya di jajaran birokrat sejak akhir dekade 1960an.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di garis khatulistiwa dan di antara dua benua, keunggulan Indonesia, menurut Emil, ada pada kebhinekaan bangsa ini. Bangsa ini begitu unik karena memiliki budaya beraneka ragam. Tiap suku bangsa memiliki tata cara hidup sendiri. Itu tampak dari budaya, kain, seni, dan sebagainya. ‘’Ini semua adalah pangkal dari tumbuhnya industri kreatif, “ paparnya.
Kekayaan bangsa Indonesia tersebut, papar Emil, sayangnya belum semua dioptimalkan menjadi kekayaan yang bernilai ekonomi tambah yang tinggi. Kekayaan keanekaragaman sumber alam hayati masih banyak yang belum digali oleh bangsa Indonesia. Padahal, itu semua menjadi sumber industri untuk farmasi, kosmetika, pangan, dan produk organik. Ia lalu mengambil contoh pengalaman masyarakat terpencil di Putussibau Kalimantan Barat. Masyarakat tersebut menggunakan penggobatan dengan lintah atau pacet untuk menyembuhkan penyakit sakit kepala. “Ilmu pengetahuan modern ternyata membuktikan lintah mampu menghasilkan zat kimia yang dapat mencairkan koagulasi sel darah manusia,” ungkapnya.
Mantan menteri Perhubungan tersebut juga mengingatkan agar bangsa ini membenahi sistem angkutan sebagai bagian penting dari pembangunan Indonesai sebagai satu bangsa (nation building). Konektivitas adalah kata kunci dan Indonesia bukan hanya Jakarta dan Jawa. Emil mengingatkan yang menyatukan bangsa Indonesia adalah bukan genetk tetapi mobilitas antar penduduk. “Sayangnya, penerbangan dan pelayaran perintis cenderung diabaikan. Perusahaan transportasi cenderung hanya melayani daerah-daerah gemuk,” keluhnya.
Peserta ‘Percakapan’ kali ini juga mendapatkan souvenir menarik. Masing-masing mendapatkan buku karya Emil Salim ‘Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi’. Dalam buku tersebut Emil memaparkan, bagaimana dalam 200 tahun terakhir, seluruh negara di dunia membangun dengan merusak satu-satunya Bumi. Pembakaran karbon dari minyak bumi dan gas meningkatkan kandungan gas rumah kaca (GRK) dari hanya 280 ppm pada masa sebelum revolusi industri (1780) menjadi 380 ppm. Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan salah satu persoalan yang diwacanakan Emil Salim dalam buku ini. (Teguh A.)
Forum Percakapan XIII – Memaknai Reformasi Birokrasi
Antara ada dan tiada. Begitulah pandangan sebagian masyarakat Indonesia terhadap pemerintahnya. Keluh kesah ini rasanya semakin kental dirasakan masyarakat Jakarta yang relatif lebih ‘melek’ politik. Kemacetan dimana-mana sepanjang waktu. Pelayanan publik, antara lain transportasi umum yang terbatas dan jauh dari nyaman. Ancaman banjir bisa datang sewaktu-waktu ketika hujan deras mengguyur Jakarta dan Bogor. Fakta ini adalah sebagian kecil dari kenyataan betapa kurang kredibel dan kompetennya birokrasi pemerintahan menjalankan tugas sehari-hari.
Menyangkut urusan hidup yang dapat dirasakan sehari-hari, ‘Forum Percakapan’ bertema ‘Memaknai Reformasi Birokrasi’ ini mampu memancing dialog ramai para peserta yang memenuhi lobi Kantor Taman DDI di Kawasan Mega Kuningan pada 30 Juni 2010. Topik yang diangkat memang tergolong ‘berat’, namun paparan Prof. Dr. Eko Prasojo dan Bapak Martiono – Presdir PT Newmont Indonesia, mampu menghidupkan bincang-bincang. Audien datang dari berbagai kalangan. Selain mitra bisnis DDI yang umumnya datang dari sektor bisnis, juga hadir teknokrat, dan pengelola pendidikan.
Prof. Eko menggarisbawahi pentingnya birokrasi di Indonesia direformasi. Guru Besar FISIP UI tersebut mengingatkan sistem kepemerintahan di Indonesia digerakkan melalui birokrasi yang diwujudkan dalam bentuk kebijakan dan keputusan politis yang berdampak pada roda kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam lingkup sempit, jajaran birokrasi melibatkan pegawai negeri sipil; sedangkan dalam lingkup lebih luas mencakup aparat BUMN, perusahaan milik negara, atau badan-bdan yang dimiliki negara untuk menjalankan fungi negara.
Di mata Prof. Eko, keputusan politik yang dihasilkan relatif sudah bagus walaupun masih harus diperbaiki, tetapi begitu diimplementasikan oleh sebuah sistem, keputusan tersebut tidak dapat berjalan sesuai dengan tujuan ideal yang diharapkan. Distorsi dan penyimpangan ini tidak dapat dilepaskan dengan adanya moral hazard (penyelahgunaan kewenangan) dan profil birokrasi yang tidak kompeten. Tidak mengherankan jika penyelenggaraan negara tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara maksimal. “Apa yang sekarang dirasakan masyarakat apakah negara ada untuk rakyat? Jalan rusak, semua sarana dan prasarana pelayanan sangat minimal. Penyelenggaraan pemerintahan oleh negara apa adanya,” jelas Prof Eko yang melist adanya sekitar 175 penyakit sistemik birokrasi.
Penyakit bangsa Indonesia, analisis Prof. Eko melingkupi political corruption, yudicial corruption , dan bureaucratic corruption. Ketiga hal saling tali temali. Masing-masing tetapi terjadi pertukaran korupsi antara yudicial power, executif power dengan political power. Tidak heran jika pemberantasan korupsi di Indonesia begitu melelahkan. Reformasi birokrasi yang hakekatnya adalah reformasi adminstrasi di Indonesia harus berhadapan dengan praktik korupsi bak gurita yang saling terkait. “Dalam kasus Gayus misalnya, saling terkait. Terjadi praktik korupsi yang melibatkan pejabat pajak, pejabat hukum, sekaligus melibatkan perantara pejabat politik dengan pejabat hukum atau dengan pejabat birokrasi,” paparnya.
Ibarat lingkaran setan, praktik korupsi kronis di Indonesia, menurut Prof. Eko sesungguhnya dapat diurai dengan menempatkan prioritas yudicial reforms (baik dari sektor kejaksanaan dan kepolisian) untuk levarage-nya. Prof Eko menyarankan jika Presiden tetap berkomitmen tinggi melaksanakan reformasi birokrasi, maka harus memperhatikan kedua lembaga hukum ini. “Sebab, korupsi di lingkup yudisial mengakibatkan efek domino, korupsi politik dan birokrasi,” jelasnya.
Pada bagian lain, Pak Martiono menyoroti tetap berkembangnya pemikiran yang keliru tentang arti government yang diterjemahkan menjadi pemerintah, yang lebih bernuansa penguasa (pangreh prodjo) bukannya abdi masyarakat (pamong prodjo). Pola pikir dan kesadaran para birokrasi masih belum banyak berubah. Oleh karena itu, agar agenda reformasi birokrasi di Indonesia bisa berjalan optimal, Pak Martiono meminta adanya penyadaran di mind set para birokrat atas fungsi sebagai pamong prodjo. “Kita ini sadar saja belum, kok mau melaksanakan reformasi administrasi. Kita tidak sadar karena urusan pemahaman,” harap Pak Martiono.
Pak Martiono juga berharap agar kesadaran ini terus menerus digelorakan. Saran Pak Martiono sudah selayaknya mendapat perhatian bagi pengelola negara berkembang seperti Indonesia. Reformasi administrasi, seperti dikemukakan Caeden – ahli administrasi publik, hakekatnya adalah perbaikan sistem administrasi di suatu negara secara terus menerus. “Bahkan negara-negara yang sudah sangat maju sekalipun seperti Jepang atau Korea, terus menerus melakukan reformasi administrasi,” ungkap Prof Eko.
Jika negara-negara maju saja tetap mau menerima kritik perbaikan, apalagi bagi negara berkembang seperti Indonesia. Reformasi administrasi mutlak menjadi tuntutan yang sangat besar. Semoga pemerintah mendengarkan aspirasi masyarakatnya untuk sebuah Indonesia yang lebih baik. [Teguh A.]
FORUM PERCAKAPAN X – Menghadapi Era Perdagangan Bebas ASEAN-Cina, Haruskah Kita Takut?
Pelajaran sejarah ratusan tahun silam telah mengajarkan bangsa Indonesia untuk menjalin perdagangan dengan negara-negara tetangga. Saudagar nusantara telah menjalin hubungan erat dengan partner mereka dari India dan China. Namun, di era modern, hubungan dagang langsung dengan China daratan sempat terputus. Diduga mendukung gerakan komunis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia; rejim Orde Baru memutuskan hubungan diplomatik dengan negara terpadat di dunia ini sehingga hubungan dagang harus melewati negara ketiga.
China tak terbantahkan menyimpan potensi ekonomi luar biasa. Memasuki milenium ke-21, negara-negara ASEAN dan China telah memasuki era pasar bebas. Ekonom Faisal Basri menjelaskan, inti dari kebijakan ini adalah bagaimana antara kedua kawasan dapat mengatasi
hambatan perdagangan yang ada termasuk untuk mengatasi perompak di Selat Malaka. Masak jaman modern takut dengan china. Ini tragedi berabad-abad.
Penjelasan Pak Faisal di atas adalah sebagian kecil dari analisis ekonomi yang dikemukakannya dalam ‘Forum Percakapan’ edisi 23 Maret 2010. Mengambil tema: ‘Menghadapi Era Perdagangan Bebas ASEAN-Cina, Haruskah Kita Takut?’, alumnus FE UI 1985 dan master dari Vanderbilt University USA (1988) ini pun menjelaskan secara gamblang melalui angka-angka betapa menguntungkannya berdagang secara langsung dengan China bagi Indonesia. Dipandu Triatmoko Nugroho Jati – konsultan senior Daya Dimensi Indonesia, audien yang sebagian besar pelaku aktif bisnis nampak antusias menyimak uraian yang bisa jadi menjadi peluang bisnis menguntungkan.
Statistik perdagangan menunjukkan, ekspor Indonesia ke China naik dari 7,7 persen menjadi 8.9 persen. Nilainya meningkat sebesar 3,4 miliar dolar AS. Sebaliknya impor Indonesia dari China turun dari 14,9 persen menjadi 13,5 persen. Volumenya mencapai 1,7 milyar dolar AS. China adalah mitra dagang utama dan tujuan ekspor penting Indonesia nomor tiga, setelah Jepang dan Amerika Serikat. “Tidak usah teori-teori ekonomi canggih. Itu bisa dilihat dari potensi pasar kedua negara. Ini memang hukum alam lebih menguntungkan berdagang dengan tetangga. Dulu, kita sok dan lebih suka berdagang sama Eropa, Amerika, atau Jepang,” papar Chief of Advisory Board Indonesia Research and Strategic Analysis (IRSA) sejak 2007.
Mengapa pasar bebas (free trade area) menguntungkan negara-negara yang terlibat di dalamnya? Inilah penjelasan Pak Faisal. Akibat praktik free trade area, volume perdagangan di dalam kawasan itu akan naik akibat adanya perpindahan sumber biaya perdagangan dengan harga yang lebih murah antar negara. Pengaruh terhadap industri di Indonesia, menurut Pak Faisal, tidak ada. Yang terjadi adalah perbedaan barang dan jasa yang beredar di pasar Indonesia. sebagai contoh, jika dahulu hand phone dengan merek Nokia begitu mendominasi pasar Indonesia, maka sekarang diganti produk China, misalnya merek Nexian. “Jadi tidak ada pengaruh apa-apa. Konsumen Indonesia justru dapat barang dengan volume lebih banyak dan harga lebih murah, paparnya.
Hanya saja, Pak Faisal mengakui praktik free trade area membuat industri Indonesia yang memang tidak kompetitif tidak memiliki hak untuk hidup. Perusahaan-perusahaan semacam inilah umumnya diproteksi melalui lobi-lobi politik. Pak faisal mengakui setiap kebijakan akan menghasilkan loser dan winner. Adalah tugas negara untuk mendistribusikan dari winner ke loser melalui mekanisme kompensasi yang harus ditingkatkan, khususnya terhadap sektor-sektor yang menjadi sumber penghidupan rakyat banyak. “Adalah tugas pemerintah untuk memikirkan efek free trade area terhadap kesejahteraan, pendapatan masyarakat, lapangan kerja, nilai tambah dan sebagainya,” katanya. [Teguh A.]