Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

FORUM PERCAKAPAN II – Land of Water, Tanah Air Kita – INDONESIA

Nuansa ‘hijau’, kelautan, dan cara hidup masyarakat lokal, silih berganti mewarnai sesi PERCAKAPAN kedua pada 26 Mei 2009 lalu yang digelar di kantor Daya Dimensi Indonesia di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Dengan topik ‘Land of Water,’ sesi hari itu diikuti 40-an orang peserta. Pembicara George Tahija dan pemandu diskusi Shanti Poesposutjipto adalah sosok yang dekat dengan isu lingkungan. Selama lima belas tahun mereka berdua tercatat sebagai Dewan Penasehat di organisasi The Nature Conservency, sebuah LSM Lingkungan yang bergerak dalam bidang keanekaragaman hayati.

Ketertarikan George terhadap lingkungan tumbuh jauh hari sejak masih usia anak-anak. Kecintaan itu ditanamkan oleh kedua orang tuanya – khususnya sang ayah: Julius Tahija. George mengisahkan bagaimana mereka sekeluarga kerap mengisi liburan dengan menikmati suasana alam, antara lain ke Pulau Nirwana, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu yang saat ini sudah tenggelam. “Saya keliling Pulau Jawa dan Bali mengendarai (mobil) Landrover waktu berusia tujuh belas tahun,” kisahnya.

Ia juga kemudian menemani ayahnya mengenang masa-masa perjuangan melawan penjajah Jepang di Kepulauan Maluku Tenggara dan Barat Daya, seperti Kei, Tanimbar, Yamdena, Bar-bar dan lain-lain. Saat itu usia Julius Tahija adalah 70 tahun. George menyaksikan pertemuan yang emosional antara ayahnya dengan teman-teman seperjuangannya melawan Jepang di tahun 1940-an silam.

Dari rangkaian perjalanan inilah, George banyak belajar tentang kearifan masyarakat lokal yang kehidupannya sering dianggap serba sederhana oleh masyarakat perkotaan. Salah satunya terjadi saat ia dan keluarganya melakukan pelayaran dari Ambon ke Darwin, Australia. Sesampai mereka di gugusan Kepulan Tanimbar, rombongan menghentikan pelayaran karena kehabisan logistik berupa sayur mayur dan buah-buahan.

Setelah menurunkan sekoci, George pun menuju sebuah pulau untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan. Kehidupan penduduk di pulau tersebut terlihat sangat sederhana, di sana bahkan belum ada aliran listrik. Saat menanyakan harga buah dan sayur pada salah seorang penduduk yang ditemuinya, George terkejut mendengar jawaban yang diterimanya, “ Silakan ambil saja Pak. Hidup di sini sudah serba berlebihan.” Sungguh jawaban yang membuat George termenung panjang dan belajar. Pulau dengan kehidupan yang terlihat begitu sederhana dari kacamata kita, ternyata dihuni para penduduk yang merasa hidup mereka sudah berkecukupan.

Dari segi pelaksanaan, ada “acara selipan” yang membuat sesi PERCAKAPAN ini berbeda dibanding sesi pertama bulan April lalu. Mantan Menteri Lingkungan Hidup yang saat ini menjadi anggota DPD-RI, Sarwono Kusumaatmaja menyerahkan cindera mata berupa buku berjudul ‘Kekayaan Alam di Indonesia’ kepada George Tahija dan Shanti Poesposoetjipto. Buku tersebut disusun oleh Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara dan memuat rekaman dari pengalaman tim menelusuri 40 pulau terdepan di wilayah barat Indonesia dengan menggunakan kapal motor yang dinamai Deklarasi Juanda. Sarwono yang adalah salah satu tokoh yang tercatat sebagai Sahabat Tim Ekspedisi ini menyampaikan, “Tahun depan, kita akan akhiri ekspedisi dengan menyusur pulau-pulau di Indonesia Timur.’’

Pemilihan nama Deklarasi Juanda untuk julukan kapal yang digunakan bukan tanpa makna. Hasil Deklarasi Juanda pada 13 Desember 1957 lah yang mengukuhkan Indonesia sebagai sebuah Negara Kepulauan. Atas jasa Perdana Menteri Juanda, Indonesia kini memiliki wilayah laut yang luas – yang sebelumnya dinyatakan sebagai laut internasional. “Wilayah kita dipagari oleh pulau-pulau kecil terluar. Namun pulau-pulau ini tidak banyak dikenal masyarakat,” papar Sarwono.

PERCAKAPAN memang dirancang sebagai forum obrolan bernas tanpa kesan formal. Direktur Daya Dimensi, Andi Wibisono menjelaskan forum ini memang dirancang sebagai wadah menumbuhkan suatu masyarakat pembelajar. Para peserta yang hadir dipersilakan mengemukakan pandangan dan sikapnya, dan semuanya diharapkan dapat memetik pelajaran dari pengalaman sang pembicara ataupun pengalaman bersama.

Siang itu, sesi ditutup dengan pelelangan 4 lembar buku George Tahija Land of Water kepada sekitar 40an peserta yang hadir. Hasil lelang sepenuhnya diserahkan sebagai sumbangan PERCAKAPAN kepada Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Pemenang lelang adalah Rudyan Kopot, CEO Billiton Indonesia Aquaculture; Salusra Wijaya, Direktur SCTV; Joe Kamdani, Founder Datascrip dan Saibun Sitompul dari PLN. PERCAKAPAN kembali hadir pada 25 Juni 2009 dengan pembicara Dr. Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina yang menyajikan pemikirannya mengenai pendidikan nasional. Sampai jumpa dalam laporan berikutnya seputar sesi ketiga forum PERCAKAPAN. (Teguh A)

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: