Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

FORUM PERCAKAPAN V – Deklarasi Djuanda, Identitas Kebangsaan Ketiga Indonesia

Tidak ada alasan malu menjadi orang Indonesia. Bangsa ini adalah bangsa besar. Bahkan boleh dibilang bangsa ajaib. Dari ratusan negara berdaulat yang ada di muka bumi, rasanya hanya ada sedikit bangsa besar seperti Indonesia. Bagaimana bangsa ini dapat merekatkan ratusan bangsa yang tersebar dalam 17.504 gugusan pulau dalam sebuah negara kesatuan. Padahal, masing-masing bangsa memiliki bahasa dan budaya masing-masing. Namun, bangsa ini mampu mewujudkan tujuan suci itu. Dilandasi pemikiran visioner para bapak bangsa, ikhtiar panjang ditunjukkan seluruh rakyat Indonesia membangun sebuah bangsa. Kesemuanya membutuhkan pengorbanan harta dan nyawa yang tidak ternilai harganya.

Kebesaran wilayah tanah air Indonesia saat ini, bukan semata-mata mewarisi peninggalan wilayah Hindia Belanda. Sebab, pemerintahan kolonial hanya mencakup wilayah darat dan laut teritorial tiga mil dari bibir pantai. Luasnya hanya sekitar dua ratus ribu atau 0,2 juta kilometer persegi. Perairan yang menghubungan satu pulau dengan pulau lainnya, seperti Selat Sunda, Selat Karimata, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Selat Makasar, Laut Banda, Laut Aru dan ratusan perairan nusantara lainnya, belum diakui sebagai perairan Indonesaia. Sebaliknya, ini dianggap dalam yuridiksi perairan internasional.

Sarwono Kusumaatmadja – anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang sebelumnya menduduki portofolio menteri lingkungan hidup dan kelautan, mengangkat tema: ‘Deklarasi Djuanda. Mewujudkan Konsep Tanah Air’ dalam forum PERCAKAPAN edisi 30 September 2009. Terima kasih untuk Bapak dan Ibu yang tetap menjadi mitra dan bagian kaluarga DDI Indonesia untuk terus memikirkan sebuah tatanan Indonesia lebih baik. Suasana PERCAKAPAN yang masih diliputi suasana perayaan Hari Raya Idul Fitri tersebut, sedikit kurang nyaman karena listrik di kawasan Mega Kuning mengalami pemadaman akibat terbakarnya gardu PLN di Cawang Jakarta Timur.

Genset yang menggantikannya pun gagal memanggul beban sehingga penerangan tidak stabil. Jajaran Direksi PLN yang sudah menuju ke DDI pun, harus kembali memimpin rapat untuk mengatasi ‘musibah’ tersebut. Namun, itu semua tidak mempengaruhi hangatnya perbincangan yang topiknya memang relevan untuk diaktualisasikan agar bangsa ini semakin kencang menatap ke depan. Seluruh kursi yang disediakan, nampak dipenuhi peserta.

Pada forum yang dimoderatori Yuri Yogaswara – senior consultant DDI itu, Sarwono menguraikan tiga tonggak sejarah penting yang membangun bangunan Indonesia. Pertama, berdirinya Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 sebagai cikal bakal kebangkitan nilai-nilai nasionalisme Indonesia, yang kemudian bermuara pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Kedua, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai pertanda berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terakhir, Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 yang menentukan kedaulatan Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelago). Dari ketiga tonggak itu, Deklarasi Djuanda relatif kurang mendapat perhatian rakyat Indonesia.

Wilayah yuridiksi Indonesia yang sebelumnya hanya terdiri atas daratan seluas 0,2 juta kilometer persegi bertambah menjadi 5,8 juta kilometer persegi. Melalui perjuangan pajang sejak Deklarasi Djuanda, dunia internasional akhirnya mengakui perairan nusantara sebagai kesatuan tanah-air. Deklarasi tersebut awalnya mendapat tantangan keras dari negara-negara kuat, antara Kanada, Amerika Serikat, Australia dan sejumlah negara Eropa Barat. Melalui long march panjang diplomasi tanpa meletuskan sebutir peluru pun, antara lain almarhum Mochtar Kusumatmadja – salah seorang ahli hukum laut handal yang dimiliki Indonesia, konsep tanah-air akhirnya diakui dunia.

United Nations Convention on the Law of the Sea tahun 1982 mengakui wilayah laut Indonesia tidak hanya sebatas ‘lontaran desing mesiu’ tiga mil dari arah daratan, tapi bertambah mencakup perairan kepulauan nusantara seluas 2,3 juta kilometer persegi, ditambah dua belas mil dari bibir pantai. Di samping itu, tanah-air Indonesia mempunyai hak berdaulat atas Zona Ekonomi Ekslusif seluas 2,7 kilometer persegi. Bangunan tanah-air Indonesia pun semakin besar karena mencakup total wilayah seluas 5.8 kilometer persegi.

Uraian Sarwono tentang ‘Deklarasi Djuanda’ pagi itu betul-betul menyentak PERCAKAPAN. Bangsa Indonesia tak terbantahkan adalah bangsa besar. Bukan hanya dari segi luas wilayah. Bangsa ini juga dikarunia talent luar biasa, antara lain Djuanda Kartawidjaya – Perdana Menteri RI ke-11 (14 Januari 1911 – 6 November 1963) yang dengan berani mengumumkan ke dunia tentang yuridiksi perairan nusantara sebagai bagian integral tanah-air Indonesia. Perjuangan Djuanda pun dituntaskan oleh para ahli hukum laut yang tanpa lelah selama puluhan tahun memperjuangkan hak bangsa.

Kini, di tengah masyarakat, kerap ditemui komentar dan pandangan miring yang cenderung meremehkan ‘kebesaran’ bangsa ini. Nasionalisme dan jati diri bangsa dipertanyakan. Korupsi sebagai perwujudan sarah urus pengeloaan pemerintahan tetap hadir di seluruh level masyarakat. Bencana baik karena faktor alam dan ketidakpedulian masyarakat silih berganti menghantam bangsa. Rajutan harmoni dan kesetiakawanan di tengah masyarakat dirasakan makin melonggar. Semua mendorong energi negatif bangsa.

Benang merah PERCAKAPAN pagi itu akhirnya menyimpulkan perlu prakasya masyarakat termasuk sektor bisnis, bersama pemerintah untuk membalikkan energi negatif ke arah yang produktif. Salah satunya, menurut Sarwono, adalah bagaimana mengapresiasi perjuangan ‘Deklarasi Djuanda’ dengan aksi produktif nyata. Harapan bangsa Indonesia mewujudkan sebuah negara kepulauan, tegas Sarwono, telah dihasilkan putra-putra terbaik bangsa. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengelola tambahan 5,6 juta kilometer persegi wilayah laut yang memiliki potensi luar biasa di bidang perikanan, sumber baru makanan, farmakologi, industri jasa pelayaran internasional, wisata bahari dan bahkan untuk memperkuat posisi geopolitik Indonesia di tengah pergaulan bangsa-bangsa.

Djuanda dan para diplomat ulung bangsa telah meletakkan fondasi kokoh. Kini giliran seluruh komponen bangsa ini membangun potensi yang masih terpendam itu. Semoga perjalanan long march mengelola tanah–air ke depan semakin menjadi kesadaran seluruh warga bangsa…. (Teguh A.)

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: