Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

FORUM PERCAKAPAN VI – Menyikapi Terorisme

Rangkaian aksi teror yang mengguncang Indonesia sejak akhir abad 20, bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ini adalah perpanjangan konflik global yang episentrumnya terus memanas di kawasan Timur Tengah. Adalah Guru Besar sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menjelaskan, konflik berkepanjangan di Timur Tengah lah yang menyeret Indonesia dalam kancah terorisme global. Perselisihan di kawasan tersebut hakekatnya bukan semata-mata masalah agama, namun lebih ke konflik etnis dan kepentingan ekonomi yang melibatkan kepentingan Barat (dengan dominasi Amerika Serikat dan Israel).
Ketika diundang menjadi pembicara dalam ‘Forum Percakapan’ edisi 26 Oktober 2009, Komarudin menguraikan, radikalisme yang diterjemahkan dalam aksi teror terjadi ketika kelompok yang secara politis berseberangan dengan kekuatan AS kalah memenangkan perang fisik maupun diplomasi. Strategi selanjutnya adalah memperlebar wilayah konflik di luar Timur Tengah. Salah satunya di Indonesia.
Dengan memanfaatkan fundamentalisme agama, dirancanglah aksi teror mencekam dengan imajinasi surga. Dari segi psikologi terorisme, alummus Ponpes Pabelan Magelang dan sarjana Fakultas Ushiluddin IAIN Jakarta tersebut menguraikan, ketika orang kalah perang dan siap mati, maka mereka tidak mau mati konyol. “Mereka ingin menjadi meaningfull, tidak mau mati konyol dan sia-sia,” tegas peraih gelar master dan doktor dari Middle East Technical University Turkey ini
Aksi terorisme, lanjut peserta program Post-Gaduate di Mc Gill University (Kanada) dan Seminari Hartfort Connecticut (Amerika Serikat) adalah jalan terakhir yang paling ekonimis. Tidak membutuhkan banyak tenaga kerja atau pasukan. Biayanya pun relatif murah. “ namun, upaya tersebut sudah mampu melakukan aksi teror yang dapaknya luar biasa bagi masyarakat. Mampu mendorng ketakutan dan simpati media,” katanya.
Berbeda dengan tema-tema ‘Percakapan’ sebelumnya yang umumnya memperbincangkan masalah-maslah praktis dan ringan, tema kali ini memang terkesan serius. Dipandu Arie Panca – Project Manager Leadership Development Solution DDI, perbincangan kali ini membahas akar masalah yang melatarbelakangi gerakan terorisme kontemporer di Indonesia. Mungkin, sebagian orang belum dapat merasakan dampak yang mencekam karena tidak langsung terkena ke keluarga terdekat. Namun, bagi para dimensioner (begitu biasanya karyawan DDI dipanggil), aksi teror adalah pengalaman nyata.
Berlokasi di kawasan Mega Kuningan, tidak jauh dari lokasi Hotel JW Marriot dan The Ritz-Carlton Hotel – sebagai simbol kepentingan AS, dimensioner dua kali merasakan dampak langsung aksi terorisme. DDI harus menutup aktivitasnya pada jam satu siang di tengah kesibukan melaksanakan assessment. Salah seorang pimpinan puncak klien DDI, Presiden Direktur Timothy D. Mackay dari PT Holcim Indonesia Tbk, bahkan menjadi salah satu korban dari peristiwa tersebut.

Bertepatan dengan perayaan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, selain dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, kali ini juga dinyanyikan ‘Bangun Permudi Pemuda’ karya A. Simanjuntak. Seluruh peserta yang sebagian besar telah dewasa tetap bersemangat ‘pemuda’ kala menyanyikan lagu perjuangan itu. Bagi Prof. Komar, perayaan sumpah Pemuda memiliki arti penting bagi perjalanan bangsa. Di usia yang masih belia, para pemuda tersebut sudah mampu membuat imajinasi visioner jauh ke depan. Mereka hilangkan batas bangsa-bangsa yang tersebar di Nusantara dengan memproklamirkan menjadi satu bangsa Indonesia melalui moment ‘Sumpah pemuda’ yang terkenal itu: ‘Satu Nusa, Satu Bangsa , dan Satu Bahasa’ , Indonesia.
Prof. Komar menilai kadar imajinasi dan visioer bangsa Indonesia saat ini tetap penting untuk ditingkatkan kualitasnya agar mampu menghasilkan sejumlah karya monumental, seperti halnya Sumpah Pemuda. Salah satunya dapat dicapai melalui perbaikan sistem pendidikan yang benar agar anak-anak memiliki imajinasi yang lebih visioner. Diantaranya dengan memperbaiki kurikulum dan sistem pendidikan sehingga anak didik dapat terus dirangsang kreativitasnya. Jika dikaitkan dengan agenda deradikalisasi fundamentalisme sempit agama, maka anak didik yang kreatif dan kritis tidak akan mudah diindoktrinasi dengan memberikan ‘janji surga’ atas aksi teror bom bunuh diri yang dikampanyekan. (Teguh A)

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: