Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

FORUM PERCAKAPAN XV – Terobosan Pemimpin Muda di Organisasi Mapan

Oktober adalah milik pemuda. Tidak mengherankan jika tiga hari menjelang perayaan nasional “Hari Sumpah Pemuda”, “Forum Percakapan” memilih tema: “Terobosan Pemimpin Muda di Organisasi Mapan”. Tamu yang dihadirkan pun berasal dari generasi muda, yaitu: Prof. Dr. Fimanzah, PhD (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) dan Kartika Wirjoatmodjo (Managing Director PT Mandiri Sekuritas).
Usia memang tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan pikir dan bertindak. Mitra kerja DDI yang hadir di “Percakapan” tetap mendapatkan gagasan, inspirasi, dan ide segar dari acara ini. Dipandu Ghita A. Utoyo – konsultan DDI, perbincangan selama dua jam di lobi Kantor Taman Mega Kuningan pada 25 Oktober 2010 itu, terasa singkat.
Pada situasi saat ini, menjadi pemimpin muda di suatu organiasasi mapan yang sudah memiliki reputasi membanggakan, terkadang tidaklah nyaman. Ada semacam tekanan yang lebih besar. Paling tidak itu dikemukakan oleh Prof. Firmanzah yang berhasil menjadi wisudawan teladan FE UI dari Departemen Manajemen pada 1998 itu. “Ekspektasi orang jauh lebih tinggi, sehingga jika kita melakukan kesalahan dianggap kecelakaan. Sementara bagi kalangan senior, kesalahan adalah sebuah kewajaran,” ujar doktor lulusan University of Pau et Pays de I’Adour Perancis pada tahun 2005 ini.
Prof. Firman pun membagi sejumlah tips bagaimana leader dapat sukses memainkan peran dan fungsinya di dalam sebuah organisasi yang berada di tengah situasi sosial budaya masyarakat Indonesia. Di satu sisi, akibat keterbukaan dengan dunia luar, masyarakat Indonesia dihadapkan pada fenomena globalisasi, perkembangan teknologi informasi dan transportasi yang berjalan begitu cepat. Di sisi lain, leader harus sadar akan kenyataan masih rendahnya kelompok menengah sehingga pola pikir masyarakat masih tradisional dan belum rasional seperti masyarakat negara maju di Eropa Barat, Jepang, Amerika serikat, dan Australia.
Untuk itu, agar berhasil memerankan tugas dan fungsinya, Prof. Firman berpesan agar seorang leader di Indonesia memahami nilai-nilai sosial budaya masyarakat Indonesia sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan dan ide, agar dapat merubah proses bisnis. “Leader harus mampu berdiri dalam posisi berbeda-beda, kapan menerapkan standarisasi global sekaligus menyesuaikan dengan muatan lokal yang ada,” paparnya.
Bagi Pak Kartika, tantangan yang harus dihadapi leader di Indonesia saat ini adalah bagaimana membangun visi dan misi organisasi yang kuat, kemudian membangun budaya organisasi sehingga dapat menterjemahkan visi misi tersebut, sekaligus mengimplementasikan dalam business process. Dengan demikian konsep yang telah dicanangkan dapat diterjemahkan dalam kegiatan konkrit untuk menghasilkan nilai tambah bagi organisasi. “Bangsa ini sudah memiliki begitu banyak pengamat dengan konsep-konsepnya,” katanya.
Berkaitan dengan hal di atas, Pak Kartika beruntung karena bekerja di Bank Mandiri, sebuah lembaga keuangan besar di Indonesia, yang telah mengalami transformasi rekapitulasi dana sebesar 1700 triliun. Bank Mandiri sebagai hasil merger dari beberapa Bank pemerintah, dituntut untuk survive dan compete dengan kondisi bisnis keuangan yang terbuka di Indonesia. Agar organisasi dapat melewati perubahan dengan baik maka hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana organisasi dapat mengelola karyawan dengan baik. Cikal bakal Bank Mandiri, urai Pak Kartika, sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Dengan demikian, budaya organisasi sudah terbangun sejak puluhan tahun. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menggabungkan budaya antara karyawan yang sudah ada dengan ide-ide segar dari telent baru yang masuk dalam organisasi. Ini adalah tantangan yang harus dihadapai organisasi.
Seorang leader, papar Pak Kartika, harus lebih melakukan action, lebih sabar dan mampu mendeteksi sumber perubahan, dengan menggabungkan ninlai-nilai lokal dengan ide-ide segar. Nilai-nilai yang datang dari eksternal organisasi tanpa adanya support dari nilai-nilai lokal tidak akan berjalan. “Tetapi, tanpa ada ide-ide segar dari luar, maka tidak akan ada kemajuan. Kondisi ini terjadi baik di organisasi pemerintah maupun organisasi private,” jelasnya. [Teguh A.]

Silahkan klik video

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: