Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

FORUM PERCAKAPAN XVII – Berbagi Cerita dan Kebanggan Indonesia

Lounge Kantor Taman Daya Dimensi Indonesia di Kawasan Mega Kuningan siang itu bak kelas bisnis untuk para Corporate Executive Officer (CEO). Sekitar dua jam Theodore Permadi Rachmat menjelaskan intisari pengalaman mengelola bisnis selama 40 tahun dalam ‘Forum Percakapan’ pada 26 Maret 2011 lalu. Sejumlah perusahaan dikelolanya menjadi kelas konglomerat yang disegani, seperti United Tractor, PT Astra International, Adira Finance, Adaro dan terakhir Kelompok Usaha Tri Putra. Butir-butir pemikiran orisinil Pak Teddy pun mengalir lancar tanpa dipersiapkan sebelumnya.

Benang merah pelajaran pertama pengalaman Pak Teddy adalah perlunya memahami competitive edge yang ada sebelum mengelola bisnis. Identifikasi daya saing inilah yang harus dikelola habis-habisan sehingga perusahaan dapat mendominasi bidangnya untuk memenangkan persaingan pasar. Untuk memudahkan pemahaman konsep competitive edge, Pak Teddy mengambil perumpamaan masyarakat China: ‘Jika Anda ingin menjaring banyak ikan, kenalilah samudra yang tepat.’ Cash flow memang harus cukup namun kemampuan mengenali kekuatan daya saing inilah, menjadi faktor kunci keberhasilan bisnis. “Kita tidak bisa bercocok tanam di padang pasir, tetapi harus mampu mencari lahan subur sesuai tanaman tersebut,” ujarnya.

Kemampuan membangun competitive edge tidak akan berarti jika tidak didukung manajemen proses organisasi, antara lain menerapkan standarisasi untuk menjamin kualitas produk dan jasa yang dihasilkan. Ini adalah pelajaran kedua dari Pak Teddy. Proses tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui profesional dan karyawan yang berkarakter dan memiliki gairah atau passion dalam bekerja. Tidak sekadar pandai secara akademis. “ Di sinilah digunakan dan pentingnya DDI. Kita kan tidak mungkin mewawancarai sendiri setiap karyawan selama tiga jam,” ujarnya.

Pelajaran terakhir yang ditawarkan Pak Teddy adalah pentingnya membangun budaya perusahaan yang transparan sehingga tercapai trust antar karyawan dan manajemen. Untuk itu, seorang pemimpin harus mampu membangun suasana yang menyenangkan dan perasaan bangga dalam perusahaan. Pemimpin sebaliknya tidak perlu kerap marah-marah atau tertutup sehingga menyuburkan politicking di organisasi. “Itu yang dikerjakan di Astra. Coba tanya semua mantan karyawan Astra, mereka bangga setelah pensiun,” jelasnya.

Dipandu Meike Malaon – salah satu founders dan Komisaris PT DDI, suasana percakapan begitu cair. Peserta diskusi dapat memetik pelajaran berharga dari Pak Teddy bagaimana mengelola organisasi bisnis secara tepat dalam dialog bernas. Dengan tangkas Pak Teddy menjawab problem praktis yang dapat ditemui dalam dunia bisnis sehari-hari. Jawabannya pun tidak keluar dari konsep dan teori buku bisnis tetapi datang langsung dari pengalaman praktis ketika ia mengelola usaha atau pengalaman orang lain yang ia peroleh dalam acara jamuan makan malam dan gathering lain.

Sebagian kecil pertanyaan praktis pengeloaan bisnis antara lain: Kapan saat yang tepat menjual perusahaan? atau Bagaimana mengelola kreativitas dan inovasi bisnis, jika dikaitkan dengan implementasi standarisasi untuk menjamin kontrol kualitas proses produksi?

Mendapatkan karyawan atau leader yang tepat, menurut Pak Teddy, adalah faktor penting agar berhasil mengeloa bisnis. Peserta diskusi pun lalu bertanya, bagaimana mengenali profesional dengan karakter yang diperlukan? Kesemua pertanyaan tersebut mampu dijawab Pak Teddy dengan lugas dan contoh konkrit pelaksanaan bisnis di lapangan.

Ketika berada di comfort zone saat berhasil memimpin PT Astra International, Pak Teddy kemudian memutuskan keluar perusahaan untuk membangun bisnis sendiri. Ada satu pertanyaan mengelitik dilontarkan salah seorang peserta dialog. Bagaimana Pak Teddy mampu membangun keberanian dan melonjat ke bidang bisnis baru? Ia pun menjawab dengan jujur bahwa keberanian tersebut harus dilatih karena tidak semua rencana bisnisnya menunjukkan hasil sesuai harapan. “Saya dua kali bangkrut. Dua kali dipecat. Filosofinya sepuluh kali jatuh, sebelas kali bangkit. Ke depan berpikir positif saja. Kalau mau sukses, harus mau ambil risiko,” papar lulusan Institut Tehnologi Bandung tahun 1968 ini.

Ketika sebagian kolega pebisnis telah menikmati masa pensiun, Pak Teddy yang kini telah berusia 67 tahun tetap bergairah mengelola bisnis. Sepanjang tubuh masih sehat dan kuat, ia mengatakan tetap akan membuka lahan usaha baru karena dengan demikian ia akan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Bahkan kepada anak-cucunya ia berpesan untuk tetap mengelola dan membesarkan perusahaan yang telah ia rintis. Ia pun berpesan ke mereka agar tidak lupa menengok anak-anak jalanan yang kerap ditemui di perempatan lampu merah di Jakarta. “Kalian boleh enjoy dalam hidup. Tapi, kalian harus berbagi. Kalian memiliki tanggungjawab ke anak-anak kecil itu suatu ketika kalau saya tidak ada lagi….,” ujarnya lirih. (Teguh Apriliyanto)

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: