Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

FORUM PERCAKAPAN XX – Daya Tarik Indonesia untuk Investasi

Kepercayaan. Kepercayaan. Kepercayaan.
Kata di atas rupanya menjadi kunci utama kesuksesan Patrick Walujo – CoFounder dan CoManaging Director Northstar Equity Partners (NEP). Di usia yang ke-34 tahun, alumnus Cornell University ini telah mengelola dana investor asing yang menanamkan bisnisnya di Indonesia, melalui tiga kali proses fund rising (2006,2008, dan 2011). Jika di awal fun rising baru mampu menggaet dana asing 10 juta dla AS, maka total nilai investasi asing yang dikelola NEP sampai 2011 melonjak mencapai sekitar satu milyar dolar AS.
Pak Patrick mengungkapkan sejumlah kiat berharga bagaimana ia membesarkan perusahan investasi yang dikelolanya melalui ‘Forum Percakapan’ di Lounge Leadership Kantor DDI di Kawasan Mega Kuningan Jakarta,15 September 2011. Masih dalam suasana perayaan Idul Fitri 1432 Hijriah, dipandu Ibu Aprilia Safarini – Group Head Acquisition DDI, dialog yang dihadiri para profesional mitra DDI tersebut belangsung hangat dan bermanfaat.
Kepercayaan yang diperoleh Pak Patrick dari para investor luar negeri bukan datang tiba-tiba. Maklum, sebelum mendirikan NPG, Pak Patrick telah bekerja di sejumlah perusahaan investasi asing terkemuka, yaitu sebagai Associate Investment Banking Division di Goldman, Sach & Co di London dan New York serta Senior Vice President Pasific Century Group di Tokyo. Kepercayaan tersebut, ulas Pak Patrick, harus dibuktikan di lapangan melalui praktik good corporate governance (antara lain keterbukaan) dan good management yang ujung-ujungnya mampu menghasilkan keuntungan signifikan buat investor.
Untuk suksesnya investasi, Patrick melihat manajemen merupakan faktor yang cukup menentukan. untuk itu, ia harus bermitra dan mendapatkan manajer-manajer terbaik. Insentif para manajer tersebut sejajar dengan Northstar, sehingga mereka benar-benar berpikir dan berperilaku sebagai pemilik. Pak Patrick juga lebih senang jika dapat bermitra dengan manajemen lokal Indonesia. “Kami sendiri orang Indonesia. Kami tidak perlu lagi mengajarkan budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia kepada manajer Indonesia,” tambahnya.
Orang kerap salah menafsirkan NEP sebagai perusahaan asing, khususnya dikait-kaitkan dengan Texas Pacific Group (TPG), salah satu private equity fund terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$ 40 miliar. Persepsi publik ini bisa dipahami karena pada akhir November 2006, eksekutif NEP bersama eksekutif TPG sempat diterima Presiden RI di Istana Negara. Tentang hal ini, Pak Patrick menegaskan jika NEP bukanlah agen ataupun mediator TPG. NEP adalah private equity fund yang didedikasikan untuk investasi di Indonesia. “Investor NEP berasal dari lembaga keuangan internasional seperti dana pensiun, dana abadi lembaga pendidikan (university endowment fund), perbankan, dan sebagainya,” katanya.
Dalam berbisnis, manajer investasi NEP dikontrol Northstar Pacific sebagai pemegang saham mayoritas. Adapun TPG menjadi salah satu pemegang saham minoritas. Tidak heran jika hubungan NEP dengan TPG sangat dekat. TPG adalah lembaga pertama yang akan diundang NPG ketika menawarkan kegiatan investasi di Indonesia.
Di usia yang baru sekitar satu dekade, diam-diam kiprah NEP telah menjadi private equity fund terkemuka di Indonesia, misalnya berperan dalam pengambilalihan BTPN, PT Adaro, dan PT Alfa Retailindo Tbk. Soal pilihan investasi, Patrick menyebutkan, pihaknya memilih sektor-sektor di mana Indonesia memiliki keunggulan dibanding negara tetangga, terutama fokus di bisnis yang berbasis sumber daya alam dan bidang-bidang yang dimotori putra Indonesia.
Perjalanan NEP tidak hanya menorehkan keuntungan dan kisah sukses. Pak Patrick pun mengakui pernah mengalami kegagalan dan salah perhitungan dalam berbisnis, antara lain ketika memutuskan untuk masuk dalam bisnis mining batubara yang sempat booming. Namun, kepercayaan investor akan pulih, ketika ia mampu mengungkapkan fakta kebenaran ini kepada investor sekaligus memberikan rekomendasi pembenahan yang akan dilaksanakan.
Dalam pengamatan Patrick, ketertarikan TPG dan investor NEP lainnya menanamkan modal di Indonesia adalah karena Indonesia dinilai sebagai negara ketiga terbesar di Asia yang pertumbuhan ekonominya cukup baik, setelah China dan India. “Jumlah penduduknya besar dan sumber daya alamnya berlimpah. Apalagi kondisi politik dan proses demokratisasinya berjalan cukup baik,” tambahnya.
Tentang penilaian tingginya biaya transaksional di Indonesia kentalnya praktik KKN, Pak Patrick mempunyai pandangan lain. Setiap investor pasti memiliki penilaian masing-masing berkaitan dengan risk dan reward ketika akan memutuskan berbisnis di negara asing. Masalah transaksional juga dialami di negara – negara Asia Pasifik lainnya baik di India, China, Thailand dan Filipina. “Semua sama. Hanya Hong Khong dan Singapura yang lebih baik. Indonesia is journey. Ada perkembangan sosial politik yang membuat kita tetap optimis terhadap Indonesia,” tutupnya. (Teguh Apriliyanto)

No comments yet»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: