Percakapan Blog

Just another WordPress.com weblog

Forum PERCAKAPAN XXII “Teladan Pangeran Diponegoro untuk Masyarakat Kini”

Ada banyak dimensi di sekitar Perang Diponegoro (1825 – 1830). Peristiwa besar itu tidak hanya menawarkan kisah heroik perlawanan bangsa ini atas pendudukan pemerintahan Kolonial Belanda di tanah Jawa. Lebih dari itu, Perang Diponegoro juga memaparkan nilai-nilai kemanusiaan, kesadaran atas nilai kebangsaan, keislaman, sampai percintaan. Tidak heran jika koreografer besar Sardono W. Kusumo menyamakan kisah Perang Diponegoro layaknya epik klasik Ramayana atau Mahabarata.
Kebesaran kisah Diponegoro tidak hanya menyita perhatian para sejarawan, antara lain Prof. Peter Carey; Chairil Anwar – penyair besar itu pun kagum akan sosok Pangeran ini. Sampai sekarang, sajak dengan judul “Diponegoro” terpatri di salah satu sudut Taman Ismail Marzuki. Pertimbangan itu pula lah yang rasanya melandasi Rozan Anwar – Komisaris sekaligus Founder Daya Dimensi Indonesia (DDI) memanggungkan ulang Opera Diponegoro di Teater Jakarta pada 11, 12,13 November 2011.
Karya Sardono yang pertama kali dipentaskan pada Indonesia Art Summit (1995) tersebut, kembali diaktualisasikan dengan tema “Opera Java War”. Pertunjukan ini didukung oleh sekitar 70 seniman tari, teater, musik dari Yogyakarta dan Surakarta. Even kali ini terasa istimewa karena menghadirkan Iwan Fals yang menulis 10 lagu baru berdasarkan syair yang ditulis Pangeran Diponegoro. Nyanyian merdu Iwan menjadi penghantar perpindahan antar babak dalam pertunjukan. Otobiografi Pangeran Diponegoro sepanjang 800 halaman itu, ditulis selama sembilan bulan, mulai 13 November 1813. Naskah ini didektekan kepada kerabat, dan bahkan sebagian ditulisnya sendiri, di daerah pembuanganya di Manado, menjelang umurnya yang kelima puluh.
Sementara itu, reproduksi lukisan raksasa yang menggambarkan penangkapan Pangeran Diponegoro di rumah Karesidenan Magelang, pada suatu pagi 28 Maret 1830, menjadi background panggung. Karya Raden Saleh benar-benar bertindak sebagai rujukan ikonografis yang sangat penting dimana ide-ide visual pertunjukan ini mendapatkan bentuknya.
Puluhan pengunjung “Forum Percakapan” yang memenuhi Lounge Kantor Taman pada 6 Desember 2011, kembali mendapatkan pelajaran berarti tentang Perang Diponegoro. Selain Mas Don, ‘Forum Percakapan’ juga menghadirkan Prof. Carey yang juga menulis “An Account of the Outbreak of the Java War”. Sejarawan Inggris tersebut menguraikan, Perang Diponegoro membuka dimensi baru perlawanan bangsa Indonesia ke pemerintahan kolonial Belanda.
Totalitas alumnus Cornell University itu memang patut diapresiasi. Carey telah mendedikasikan hidupnya sejak Desember 1971 untuk mendalami kajian tentang Pangeran Diponegoro. Sebelumnya, ia mengaku tidak tahu tentang sosok Diponegoro. Di akhir 1971, ia mendapat kesempatan berkunjung ke Yogjakarta. Seperti layaknya bule asing, ia pun mengunjungi berbagai atraksi kebudayaan setempat, antara lain melihat pagelaran wayang kulit di Desa Tegalrejo – tempat kelahiran Diponegoro. Entah bagaimana, sejak itu ia seolah mendapat hubungan aneh untuk mengetahui sosok Diponegoro hingga sekarang.
Cakupannya yang luas, melibatkan seluruh level masyarakat, ditambah adanya inspirasi keislaman, membuat Perang Diponegoro betul-betul membuat posisi Belanda terancam di Jawa. Luasnya dukungan rakyat, jumlah korban, biaya yang dikeluarkan serta kharisma kepemimpinanya, menjadikan perang ini sebagai simbol perlawanan paling popular. Perang Diponegoro, betapapun telah merubah secara mendalam pola dan struktur kolonial Belanda, serta mengantarkan watak perjuangan rakyat pada dimensinya yang baru.
Kini, ketika peristiwa itu telah berlangsung hampir 200 tahun lebih, idealisme yang melatarbelakangi perjuangan Pangeran Diponegoro masih tetap memiliki makna. Perang Diponegoro adalah simbol perlawanan atas kesewenangwenangan penguasa atau elite setempat yang didukung Pemerintahan kolonial Belanda. Perang ini juga menunjukkan adanya identitas bangsa dan aktualisasi nilai-nilai Islam Jawa. Isu-isu besar itu pun rasanya masih tetap relevan untuk diperjuangkan saat ini. Masalah ketidakadilan serta mulai kaburnya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman, adalah persoalan nyata di masyarakat yang harus terus diperjuangkan.*** (Teguh A).

1 Comment»

  Peter Carey wrote @

Memang, Sang Pangeran menulis babadnya dalam kurun waktu sembilan bulan tapi bukan pada tahun 1813 tapi pada 1831-32 – dari 20 Mei 1831 sampai dengan 3 Februari 1832. Itu ditulis pada awal pengasingan bekas pemimipin Perang Jawa di Sulkawesi (1830-55). Babad ini merupakan suatu karya puncak untuk kesastraan moderen Indonesia sebab saya kira menjadi karya otobiografi yang pertama dalam Bahasa Indonesia atau Jawa. Memang hebat kalau kita dipikir bahwa 1,000 halaman itu ditulis dalam situasi yang susah payah tanpa dukungan apapun: dua kamar ‘panas dan menyedihkan’ di Benteng Nieuw Amsterdam (Manado) tanpa catatan atau perpustakaan lain sebagai referensi. Sekarang Babad sedang diajukan oleh Indonesia ke UNESCO sebagai warisan dunia (Memory of the World).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: